Keadilan untuk Penyebar Hoaks

Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi kepolisian untuk menjadi adil dalam setiap upaya penegakan hukum di negeri ini. Karena ketidakadilan seperti ini, mencederai legalitas hukum sekaligus kinerja kepolisian yang sejatinya saat bergerak menuju lebih baik. Anggapan “hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas” akan terus dibenarkan bila penegakan hukum seperti ini terus terjadi. Para penyebar hoaks yang telah ditangkap dan dihakimi pun akan merasa diperlakukan tidak adil, hanya karena mereka rakyat kecil.

Hal ini seharusnya tak boleh dibiarkan begitu saja. Aparat pemerintah harus bersikap adil dan profesional. Karena pengalaman yang sudah-sudah, bila masyarakat merasa tak puas dengan proses penegakan keadilan yang dilakukan, potensi-potensi gerakan kolektif yang mengganggu kondusifitas negara bisa saja terjadi. Bila gerakan masyarakat seperti ini benar terjadi, tentu negara ini akan sangat rugi.

Ambil contoh kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja alias Ahok yang dituding menistakan agama. Kasus Ahok ini sebenarnya sama dengan kasus-kasus penistaan agama yang ada sebelum-sebelumnya. Namun entah kenapa, aparat berwenang dianggap lambat dalam menanganinya. Baru setelah dilakukan demo berjilid-jilid, polisi bergerak cepat untuk menyelesaikannya.

Hal seperti ini tentu bisa menimbulkan pertanyaan, apakah mesti ada gerakan di masyarakat demi menuntaskan sebuah kasus yang sebenarnya sepele bagi aparat berwenang kita yang sudah sangat profesional? Semoga saja jawabannya tidak. Semoga saja itu hoaks. Karena keyakinan saya dan masyarakat Indonesia lainnya, aparat kita, pemerintah kita, akan terus dan selalu bekerja demi mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana sila kelima dasar negara kita. (*)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept