Feature

Kenalkan Kearifan Lokal dengan Menampilkan Adat Dayak

Sebagian besar masyarakat mulai tidak mengenal kisah leluhur suku Dayak Basap yang menetap di Kutai Timur (Kutim). Padahal keberadaan suku ini kaya akan cerita.

LELA, Sangatta

Salah satu budaya suku Dayak Basap itu tercermin dalam tradisi pembuatan rumah tempat tinggal. Dalam membuat rumah, suku ini menggunakan daun serdang sebagai atap. Sementara untuk dindingnya, rumah Dayak Basap menggunakan kulit bengai dan kernanga.

Namun seiring perkembangan zaman, Dayak Basap sudah mulai meninggalkan tradisi tersebut. Selain lantaran sulitnya mencari bahan untuk pembuatan rumah dan perkembangan zaman, Suku Dayak Basap juga sudah tidak lagi menggunakan daun serdang dan kulit kayu sebagai bahan rumah lagi.

Untuk itu, Kecamatan Bengalon  mengangkat kearifan lokal dengan tema rumah adat Dayak Basap dalam memeriahkan HUT ke-19 Kutim di stan pameran Ekspo yang dilaksanakan di Bukit Pelangi, Sangatta Utara. Langkah ini dilakaukan sebagai cara mengenalkan kembali ke khalayak ramai mengenai kebudayaan suku Dayak Basap. Sehingga, penampilan stan Kecamatan Bengalon berbeda dari stan lainnya yang terkonsep lebih modern.

Ketua Adat Dayak Basap Bengalon, Benang mengatakan, tema rumah adat ini sengaja ditampilkan untuk mengenalkan kepada masyarakat. Terutama bagi para pemuda yang minim pengetahuan akan budaya zaman dahulu.

“Kali ini kami tidak datang untuk berjualan, tapi lebih ingin mengenalkan pada warga Kutim. Bahwa adat di sini masih ada dan seperti ini rupanya,” terang Benang saat ditemui, Selasa (9/10).

Benang menjelaskan dengan tujuan memperkenalkan suatu tradisi kemasyarakat, menjadi salah satu upaya dalam pelestarian. Pasalnya saat ini para kaum muda sudah mulai acuh terhadap ragam budaya di Kutim.

“Diangkatnya tema ini untuk menjaga kearifan lokal dan tetap melestarikan kebudayaan daerah. Kami galang solidaritas serta semangat membangun daerah menuju gerbang desa madu,” ujarnya.

Tidak hanya memamerkan rumah adat, Benang juga tak segan menggunakan kostum khas Dayak yaitu cawat dari kulit kayu jomok dan topi kulit kayu jomok dengan bulu burung enggang khas Kutim.

Hal itu tentu saja menarik perhatian para pengunjung untuk mendatangi stan milik Bengalon. Para pengunjung singgah ke stan tersebut dengan beragam maksud, mulai dari mengabadikan momen unik tersebut dengan berfoto maupun bertanya lebih dalam perihal budaya yang tersisa.

“Banyak ke sini, mungkin sebagian dari mereka pelajar. Biasanya ingin tahu tentang kami, jadi kami jelaskan saja. Ini membuat kami senang,” tuturnya. Lelaki berusia senja ini menyampaikan, harapannya agar generasi penerus tetap mengingatnya, terlebih seluruh keturunan adat. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button