Bontang

Lagi, Korban Gempa Palu Tiba di Bontang

BONTANG – Selama lima hari, sembilan orang korban gempa dan tsunami di Palu terlantar di Bandara Mutiara SIS Al Jufrie, Palu. Rombongan yang terdiri empat orang dewasa dan 5 anak-anak itu akhirnya tiba di Bontang dengan selamat. Namun karena merasakan langsung getaran bumi akibat gempa, salah seorang korban, Risna (53) bahkan masih merasa setengah dari badannya bergoyang jika sedang berdiri.

Kepada Bontang Post, Risna mengatakan saat gempa terjadi Jumat (28/9) lalu, dirinya sedang berada di rumah anaknya di Jalan Arif Rahman Hakim, Palu. Kala itu waktu menjelang magrib, Risna bersiap untuk salat magrib berjemaah di masjid bersama anak bungsunya Nisa Masita (18).

Namun, karena dirasa ingin buang air besar dan masih menunggu cucunya yang sedang mandi, niat itu diurungkan. Usai cucunya mandi, belum sempat memakai baju, gempa sudah mengguncang kota Palu.

“Kami enggak sempat lari, bukan tidak sempat tetapi tidak bisa. Alhasil, kami saling berangkulan bersama anak cucu di dalam rumah dan merasakan langsung guncangan gempa yang cukup dahsyat selama dua menit,” jelas Risna saat ditemui di kediaman anaknya di RT 34 Kelurahan Loktuan, Selasa (9/10) kemarin.

Dua menit yang terjadi, menurut Risna terasa seperti satu jam. Usai gempa mereda, barulah mereka berlarian ke luar rumah untuk menyelamatkan diri. Akhirnya, lapangan di depan kantor DPRD menjadi tujuan utama untuk berlindung. Barang-barang yang sempat terbawa hanya pakaian cucu-cucunya serta uang milik anaknya Azizul Rahman (31) sebesar Rp 500 ribu.

Namun saat sudah merasa aman lantaran berada di lapangan, para korban lainnya berteriak air tsunami akan datang. Sayangnya, Risna berpikir tak bisa lari karena membawa empat anak balita bersamanya. Akhirnya dia pasrah duduk sambil terus berzikir.

“Setelah gempa dan tsunami mereda, kami pun berjalan tak tentu arah. Di perjalanan ada taksi yang menawarkan angkutan dengan bayaran Rp 200 ribu, mau tak mau kami naik taksi itu menuju bandara,” terang dia.

Cobaan tak henti menguji Risna. Di bandar sudah terdapat ribuan korban gempa yang ingin pergi dari Palu. Praktis mereka harus menunggu antrean selama 5 hari dengan hanya berteduh di bawah pohon. Selama 5 hari itu mereka berjuang sendiri memenuhi kebutuhan minum, makan, serta lainnya.

Dengan sisa uang hanya Rp 300 ribu hanya tersisa Rp 19 ribu, Risna berupaya bagaimana agar cucu-cucunya tidak kehausan dan kelaparan. Sampai-sampai dia mencari air di tumpukan botol-botol kosong yang dijumpainya.

“Kalau cucu saya haus, saya tendang-tendang botol, dapat dua botol yang masih utuh. Barulah cucu-cucu saya bisa minum,” ujarnya.

Soal makanan, Risna bertutur mereka juga harus berjuang sendiri. Mengingat sia-sia bila bertanya pada polisi lantara aparat berwenang juga sama-sama kelaparan. Namun yang membuatnya heran, di bandara masih ada orang berjualan nasi kuning bahkan nasi rawon.

“Heran saja kok masih ada yang jualan sementara yang lainnya terkena gempa,” ungkap Risna.

Barulah hari Rabu (3/10) mereka mendapat giliran naik pesawat hercules ke Balikpapan. Sesampainya di Balikpapan, mereka dijemput jasa travel yang disewa anak keduanya dari Bontang.

“Saya merasa bersyukur saat tiba di Balikpapan. Karena di sana kami disambut aparat dari TNI- Polri. Cucu saya digendong Polwan, diberi mainan dan makanan. Kami juga diberi makanan agar tidak kelaparan lagi,” bebernya.

Risna mengatakan, selama 5 hari di bandara Palu dirinya tak pernah menangis. Tetapi saat menonton berita gempa Palu di televise, barulah dia menangis. Apalagi sepanjang perjalanan Balikpapan-Bontang banyak orang meminta sumbangan.

“Di situ barulah saya menangis betapa dahsyatnya gempa dan tsunami yang mengguncang Palu,” sebutu Risna.

Ditambahkan putra Risna, Azizul Rahman, andai mereka hari Rabu tidak kebagian naik pesawat, bisa jadi mereka akan terus kelaparan di bandara. Sebab tak ada relawan yang membagi makanan. Ketika diminta pun, mereka menyebut makanan tersebut untuk korban. “Tak ingin panjang lebar, saya juga hanya diam kalau mereka sudah bilang begitu,” ujar Azizul. (mga)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button