Feature

Hari Terakhir Diwarnai Gempa, Evakuasi Pasien ke Tempat Terbuka 

Tak terhitung lagi berapa kali sudah gempa susulan terjadi usai gempa besar diikuti tsunami yang memporak-porandakan Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Para korban yang masih terus dihantui gempa pun membuat para relawan Bontang dituntut sigap membantu evakuasi pasien ke lapangan.

MEGA ASRI, Bontang

Hari keempat, Selasa (9/10) merupakan hari terakhir para relawan Bontang melakukan aksi kemanusiaan di Palu. Di hari terakhir itu pula kesan mendalam didapati para relawan Bontang.

Pasalnya, sekira pukul 04.15 Wita terjadi gempa susulan dengan getaran yang cukup besar, mencapai 5,2 skala richter (SR). Gempa magnitudo tersebut berlokasi 5 kilometer Timur Laut Palu-Sulteng di kedalaman 10 kilometer.

Getaran yang cukup kuat, membuat beberapa warga termasuk relawan berlarian keluar dari posko demi keamanan. Setelah situasi diyakini aman sekira pukul 07.30 Wita, tim relawan Bontang kembali terjun ke lokasi bencana. Sementara tim medis yakni perawat dan dokter kembali bertugas di RS Undata.

Mengingat guncangan yang cukup besar, para pasien di RS tersebut dilakukan evakuasi menuju lapangan terbuka dan tenda yang telah dipersiapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara proses evakuasi berlangsung, terjadi gempa susulan lagi sekitar pukul 10.00 Wita yang mengakibatkan dinding ruangan UGD retak.

Hal tersebut membuat dokter dan perawat serta semua pasien dievakuasi keluar menuju lapangan terbuka. Demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

“Tim relawan Bontang tenaga kesehatan juga turut dalam mengevakuasi pasien bersama tim relawan lainnya serta TNI-Polri,” jelas Herman Baakel, Humas Pemkot Bontang yang juga menjadi relawan di Palu.

Sementara itu layanan dukungan psikososial kembali dilaksanakan di lapangan Vatulemo Rumah jabatan Wakil Wali Kota Palu. Untuk hari kedua ini antusias anak-anak begitu besar.  Terbukti dari jumlah yang mendapat penanganan sebanyak 75 anak, namun pada saat pelaksanaannya bertambah menjadi 117 anak.

Melihat antusias anak-anak yang begitu besar tim relawan Bontang yang mengurusi bidang layanan dukungan psikososial membagikan hadiah berupa makanan ringan serta alat-alat tulis sebagai bentuk apresiasi kepada anak-anak korban bencana.

Tak hanya itu, lanjut Herman, Tim Tagana Bontang juga ikut andil di dapur umum Dinas Sosial Provinsi Sulteng dipengungsian Lapangan Vatulemo.

“Pengungsi yang berjumlah hampir 300 orang tersebut, diberikan bantuan makan sebanyak 2 kali dalam sehari dan sarapan pagi,” ujarnya.

Terpisah, Tim rescue PMI juga pada hari keempat, Selasa (9/10) lalu masih melakukan penyisiran dan kembali mengevakuasi satu jenazah dengan jenis kelamin perempuan. Identitas jenazah tersebut tidak dapat dikenali karena sudah tidak utuh dan terlihat dari pakaiannya saja. Selain itu, dua jenazah tidak lengkap semua ditemukan di tempat berbeda-beda.

Setelah tuntas menunaikan tugas kemanusiannya di Palu, ke-25 relawan Bontang pun kembali bertolak pulang ke Kota Taman, dengan menumpang kapal Pelni Egon. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button