oleh

Ini Alasan DKK Tak Sarankan Fogging Dinilai Tidak Efektif untuk Cegah DBD

SAMARINDA – Selain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit yang kerap menghantui Kota Tepian adalah wabah demam berdarah dengue (DBD). Terlebih, Samarinda sebagai kawasan dataran rendah. Lingkungan yang padat disertai banyaknya genangan kerap menjadi tempat bersarangnya penyakit.

Seperti yang terjadi di Palaran. Baru-baru ini beredar kabar bahwa ada empat anak yang menderita DBD. Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Samarinda Rustam sepertinya belum mendengar kabar tersebut. Pasalnya, banyak kasus penyakit yang menyerupai DBD namun ternyata bukan penyakit itu.

Begitupun mengenai permintaan fogging jika wabah tersebut merebak. Ia mengatakan hal itu hanya bisa dilakukan ketika ada permintaan dan penderita hingga tiga orang. “Hal itu pun biasanya akan dilaporkan oleh Puskesmas sekitar dengan melaporkan keadaan lingkungan rumah penderita DBD dengan radius hingga 20 meter,” tutur dia, belum lama ini.

Kenatdi demikian, pihaknya berusaha menghindari pilihan tersebut karena dianggap tidak terlalu efektif lagi. Karena ada penelitian yang mengatakan bahwa fogging hanya akan membuat nyamuk DBD bertambah kuat.

“Karena fogging tidak menjamin nyamuk bisa mati. Apabila setelah nyamuk terkena fogging dan tidak mati, maka nyamuk tersebut akan lebih kebal dan justru menyebarkan penyakit yang sama kepada masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, Rustam pun mengatakan, cara paling efektif saat ini yaitu melakukan pola hidup sehat yakni dengan menggalakkan 3M. Yakni menguras, menutup, dan mengubur. Selain itu, untuk menghindari gigitan nyamuk, ia lebih menyarankan untuk menggunakan lotion maupun penyemprot nyamuk.

Terpisah,  staf bagian surveilans DKK Samarinda Tanty mengatakan, hingga saat ini kasus DBD mencapai angka 70 hingga 90 orang. Kendati demikian, ia tidak dapat memberikan keterangan lebih lantaran saat ini ia sedang berada di luar kantor.

Bagikan berita ini!
  • 2
    Shares