Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Sangatta

Harga Sawit Terjun Bebas, Warga Nekat Bakar TBS   Dihargai Hanya Rp 400

Published

on

TERBAKAR: Ini merupakan TBS yang dibakar warga Teluk Pandan.(Foto Istimewa)
Dibaca normal 1 menit

SANGATTA- Harga buah sawit atau Tandan Buah Segar (TBS) terjun bebas. Harganya turun drastis. Kini, perusahaan hanya mampu membeli Rp 400 per kilo. Padahal sebelumnya, berkisar Rp 1.000-Rp 1.500 per kilo.

Melihat kenyataan ini, banyak petani yang mengeluh. Mereka marah besar. Seperti yang terjadi di Desa Teluk Pandan Kecamatan Teluk Pandan, Kutim.

Buah yang sudah laik panen, bukannya dijual, akan tetapi ditumpuk menjadi satu lalu dibakar. Aksi tersebut dilakukan karena kekecewaan warga terhadap harga pasar yang merugikan petani.

“Opsinya ialah membakar TBS.  Dari pada dijual dengan harga Rp 400 per kilo, mending dibakar,” kata Hasbudi salah seorang warga.

Aksi kekecewaan ini tidak hanya di Teluk Pandan, ternyata terjadi di beberapa kecamatan. Salah satunya  di Tepian Langsat Kecamatan Bengalon, Kutim.

“Jadi tidak hanya petani sawit di sekitar Teluk Pandan saja, Tepian Langsat juga,” katanya.

Untuk merespon hal ini, pihaknya akan membuat surat ke DPRD untuk membicarakan hal tersebut. Warga meminta solusi terbaik mengenai harga TBS. Sebab, jika dibiarkan saja, maka petani semakin merugi.

“Sudah saya buat surat ke DPRD. Penjadwalannya Tanggal 22 (November) hari kamis jam 09.00 WITA,” katanya.

Untuk diketahui, turunnya harga sawit memang menjadi tamparan keras buat petani. Banyak petani yang mengeluh. Ada yang membiarkan, membakar, dan ada pula yang terpaksa menjual meskipun dengan harga murah.

Semua berharap, pemerintah turun tangan. Mencari solusi atas permasalahan ini.

“Kami meminta pemerintah tak hanya diam. Berikan solusi. Sehingga petani tak rugi. Sebab jika dihitung, ongkos panen, angkut, dan perawatan jauh lebih besar dibandingkan hasil penjualan jika harganya hanya Rp 400,” kata Arif, warga lainnya. (dy)

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca