Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Samarinda

Gubernur Didesak Beri Sanksi Kepada Pemilik Lubang Tambang yang Memakan Korban Jiwa 

Published

on

Baharuddin Demmu(MUBIN/METRO SAMARINDA)
Dibaca normal 2 menit

SAMARINDA – Kematian anak-anak dan remaja di lubang tambang batu bara diduga disebabkan belum adanya ketegasan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim dalam memberikan sanksi pada perusahaan. Padahal, pemprov memiliki kewenangan untuk mengevaluasi, menindak, dan mendesak perusahaan menutup lubang pasca tambang.

Keberadaan lubang tambang  tanpa disertai peringatan dan pembatasan untuk menghalangi anak-anak bermain dan mandi, menguatkan dugaan perusahaan telah lalai menjalankan tugasnya. Hal ini disoroti anggota Komisi III DPRD Kaltim, Baharuddin Demmu.

Dia menyebut,  kematian Ari Wahyu (12) beberapa hari yang lalu di lubang tambang di Desa Bukit Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mesti menjadi catatan bagi gubernur.

Kata Baharuddin, sudah berulang kali disampaikan aspirasi tersebut pada orang nomor satu di Benua Etam itu. Namun pemerintah belum mengambil kebijakan untuk menanggulangi kemungkinan adanya korban baru di lubang tambang.

“Minimal gubernur memerintahkan pada Kepala Dinas ESDM (Energi Sumber Daya dan Mineral, Red.) agar mengambil langkah-langkah,” imbuhnya, Rabu (7/11) kemarin.

Bahruddin menilai, pemerintah belum mengambil langkah konkret untuk mengevaluasi dan menyelesaikan kasus kematian di lubang tambang.

“Kalau diam terus, bagaimana mau menyelesaikan masalah ini? Sementara itu tugas pemerintah. Masa masalah ini saja tidak bisa diambil tindakan sama sekali? Saya berharap dalam beberapa hari ke depan ada tindakan nyata,” pintanya.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu menyebut, upaya yang dapat dilakukan pemerintah yakni memanggil seluruh perusahaan di Kaltim. Khususnya korporasi emas hitam yang belum menjalankan kewajiban menutup lubang eks tambang.

“Bagi perusahaan yang terbukti tidak menutup lubangnya, Dinas ESDM bisa memberlakukan sanksi. Karena perusahaan telah lalai. Sehingga menyebabkan anak-anak meninggal dunia. Artinya harus mengambil tindakan-tindakan. Jangan memberikan alasan bahwa itu takdir. Itu enggak benar,” tegasnya.

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca