Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Bontang Post Melawan Hoaks

Published

on

Dibaca normal 2 menit

oleh Dahlan Iskan

BETAPA jahat hoaks itu. Tapi yang melakukannya tenang saja. Bahkan sampai ada yang tidak merasa melakukannya.

Misalnya: mereka tidak melakukan sendiri produksi hoaksnya. Mereka hanya memesan pada produsen. Yang bisa saja tidak mereka kenal. Produsenlah yang melakukannya.

Mereka juga tidak merasa menyebarkannya. Misalnya, karena mereka menugasi mesin untuk mendistribusikan penyebarannya.

Yang lebih berat lagi: korban hoaks. Tidak punya hak jawab. Tidak punya hak menjelaskan. Tidak punya hak klarifikasi.

Sering ada hoaks. Tentang seseorang melakukan sesuatu. Tanpa ada fakta. Tanpa ada bukti. Bahkan isi hoaksnya sampai tidak masuk akal.

Ketika si korban menjelaskan, ternyata hoaks yang sama terus saja diproduksi. Mengapa? Yang memproduksinya mesin. Yang tidak punya telinga. Tidak punya mata. Tentu juga tidak punya perasaan. Tidak punya hati.

Kita tidak menyangka memasuki zaman seperti itu. Zaman hoaks. Kita telah memasuki zaman ketika fakta tidak dianggap ada. Kita memasuki zaman ‘persepsi adalah fakta’.

Maka tepat ketika harian Bontang Post memilih terus berperang melawan hoaks. Tugas koran menjadi kian berat: harus bisa menjadi lembaga news clearing. Menjadi clearing house untuk pemberitaan.

Koran masih punya keunggulan saat ini: lebih bisa dipercaya. Koran memang bisa salah. Tapi  punya mekanisme untuk menangani kesalahan itu.

Kode etik wartawan bukan dimaksudkan agar wartawan tidak boleh salah. Kode etik wartawan dimaksudkan agar wartawan tahu apa yang harus diperbuat ketika berbuat salah dalam penulisan beritanya.

Wartawan kadang berbuat salah: kurang teliti, kurang cek dan ricek, kurang berimbang, keliru memilih sumber berita. Apalagi kalau dalam suasana terdesak deadline. Apalagi kalau sumber beritanya menutup diri.

Tapi begitu tahu atau diberitahu tentang kesalahan itu, wartawan memiliki mekanisme untuk memperbaikinya. Sedang media sosial sama sekali tidak memilikinya. Kelebihan koran seperti itulah yang harus jadi misi Bontang Post ke depan.

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments