Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Nana Begitu Dibela Anak Autisnya

Published

on

Dibaca normal 4 menit

Oleh: Dahlan Iskan

 

Banyak yang punya anak autis. Tapi tidak seperti Nana. Yang habis-habisan. Mencarikan jalan keluar. Agar autis anaknya hilang selamanya.

 

Nana tinggalkan pekerjaannya. Dia lakukan penelitian. Dia temui banyak ahli. Dia baca banyak buku. Banyak artikel.

 

Berhasil.

Dia temukan ramuan yang cocok untuk menyembuhkan anak laki-lakinya itu.

Ramuan itu dirahasiakannya: hasil kombinasi biji-bijian. Yang dia olah menjadi susu bubuk. Dia minumkan ke anaknya itu tiap hari. Sebagai makanan utama sang anak.

Nana berharap banyak pada anaknya itu. Apalagi setelah Nana diceraikan oleh suaminya: seorang pengacara.

 

Setelah anaknya sembuh, Nana baru bisa tenang. Lantas berhasil kawin lagi. Dapat anak lagi. Perempuan. Normal. Lalu cerai lagi.

 

Saya bertemu Nana setelah itu. Setelah berstatus janda untuk yang kedua kalinya. Waktu itu umurnya masih 35 tahun. Kulitnya bersih terang. Wajahnya tampak cerdas. Kacamatanya agak tebal. Khas orang kebanyakan membaca. Model kacamatanya cocok dengan bentuk wajahnya yang agak bulat.

 

Dari nada bicaranya kelihatan jelas: Nana seorang yang antusias. Penuh semangat. Tapi juga sangat sopan.

 

Nana menemui saya untuk konsultasi. Mengenai usaha barunya: memproduksi susu bubuk untuk anak autis.

 

Saya mendengarkannya  dengan tekun. Setengah kagum. Pada jalan hidupnya.  Pada nasibnya sebagai  wanita.  Pada kegigihannya.

 

Tentu saya tidak perlu memberi saran apa-apa. Saya percaya Nana sudah punya segala-galanya: produk yang orisinal, tekat yang membara dan usia yang masih muda.

 

Nana pun pulang dengan hati yang mantap: memproduksi susu bubuk biji-bijian. Untuk anak autis.

 

Saya sering menghubungi Nana. Menanyakan kemajuan usaha kecilnya.

Lalu hubungan itu putus.

Sebelumnya1 dari 4 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments