Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Wardah yang ITB dan ITB

Published

on

Dibaca normal 3 menit

Oleh: Dahlan Iskan

 

“Saya ini hanya menanam akarnya,” ujar Bu Nurhayati, pemilik kosmetik Wardah. “Anak-anak kami yang membesarkannya,” tambahnya.

 

Bu Nurhayati punya tiga anak. Yang dua, laki-laki. Mengikuti jejaknya: kuliah di ITB. Hanya beda-beda jurusan. Sang ibu kuliah di farmasi. Anak pertama ambil kimia. Anak kedua belajar elektro.

 

Putrinya yang memilih UI: masuk fakultas kedokteran. Pilih menjadi spesialis kulit.

 

Suami Bu Nurhayati sendiri  juga lulusan ITB. Kimia. Di ITB lah cinta bersemi. “Kampus kimia dan farmasi kan berdekatan,” katanya dengan tersenyum.

Nurhayati lulus ITB dengan nilai tertinggi: cum laude. Lalu kuliah apoteker.

 

Keinginan awal Nurhayati  menjadi dosen. Dia melamar ke ITB. Ditolak. Nurhayati pulang ke Padang. Membawa pertanyaan tak terjawab: mengapa ditolak jadi dosen.

Di Padang Nurhayati bekerja di rumah sakit.

Pacaran berlanjut. Jarak jauh. Pacarnya bekerja di perusahaan minyak.

 

Setelah menikah Nurhayati ikut suami: pindah ke Jakarta. Bekerja di Wella. Merk kosmetik yang terkenal kala itu. Yang pasar terbesarnya di salon-salon kecantikan. Belum ada mall di zaman itu.

 

Lima tahun Nurhayati bekerja di Wella. Di bagian laboratorium. Yang memeriksa ramuan-ramuan kosmetik Wella.

 

Ketika akhirnya punya anak Nurhayati berhenti bekerja. Merawat anak. Lahir pula anak kedua. Dan ketiga.

Ketika anak bungsu tidak menyusu lagi Nurhayati mulai berpikir punya usaha.

 

Yang terpikir pertama langsung kosmetik. Sesuai dengan pendidikannya. Sesuai dengan pengalaman kerjanya.

Kosmetik pertamanya itu dia beri merk Putri.

 

Tidak laku.

 

Tidak ada salon yang mau menerimanya.

 

Tetangganya menyarankan ini: kerjasama samalah dengan pesantren. Kebetulan tetangga itu keluarga pesantren Hidayatullah. Yang punya jejaring pesantren di mana-mana.

Sebelumnya1 dari 3 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments