Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]

Connect with us
Bermita Bersama Kami

Feature

Keliling Gunakan Ontel, Tularkan Kecintaan pada Buku  Kisah Eko Suyoko Gemarkan Membaca pada Anak di Indonesia 

Published

on

KELILING KUTIM: Eko saat bertemu dengan Bupati Kutim, Ismunandar.(LELA RATU SIMI/SANGATTA POST)
Dibaca normal 1 menit

Buku adalah jendela dunia. Membaca adalah jalan untuk melihat dunia. Hal ini yang coba ditularkan Eko Suyoko kepada anak-anak Indonesia, khususnya di Kutim.

======

SETELAH lima hari mengelilingi Kutim, Eko Suyoko dengan sepeda ontelnya menebarkan virus gemar membaca ke seluruh Indonesia.  Hal ini menarik simpati pemerintah Kutim. Bupati Ismunandar yang langsung menemui Eko, usai pelaksanaan Maulid Nabi di Masjid Agung, Rabu (21/11).

Eko menceritakan upayanya untuk bisa tiba di Sangatta dan mengajak anak-anak untuk membaca. Baginya, membaca merupakan gudang ilmu yang harus terus ditanamkan sejak dini. Mengingat, anak saat ini lebih menyukai gadget. “Di samping mengajar, saya juga ingin menciptakan pojok baca di seluruh daerah yang sudah saya kunjungi,” katanya saat diwawancarai.

Ia juga memberi kesempatan bagi siapa saja yang berminat untuk membuka taman baca, ia berjanji akan memberi dukungan buku. “Asal mereka mau menyediakan lemari buku, meja dan kursi, juga berminat mengajar, kami siap membantu memberi buku,” paparnya.

Ia memilih menggunakan sepeda, salah satunya karena untuk menekan global warming. Menurutnya, dengan sepeda ontelnya sudah cukup membawanya keliling daerah. “Saya pilih sepeda ini sebagai upaya untuk menciptakan go green. Dengan ini saya minta anak-anak bisa terus membaca dan mencintai buku, minimal 10-20 menit perhari,” tuturnya.

Buku yang dibawanya beragam jenis, secara keseluruhan ia ingin mengajarkan pelajaran non formal, seperti pendidikan agama, nusantara, kesenian dan budaya, maupun materi umum lainnya. Ia mengaku belum bisa memasuki ranah sekolah, sehingga baru menyentuh kegiatan anak-anak yang sedang berlibur dan bermain sore.

Lebih lanjut, ia menerangkan kegiatan yang dilakukannya sejak 26 Juli 2017 silam itu tidaklah mudah dijalaninya. Sejumlah kendala ia beberkan. “Saya tidak digaji, tawakal saja. Sebenarnya saya butuh anggaran untuk akomodasi, itu saja sih kendalanya,” bebernya. (*/la)

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments