Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]

Connect with us
Bermita Bersama Kami

Feature

Kondisi Ekonomi Lumpuh, Jadi Ojek Online untuk Bertahan Hidup Cerita Setelah Gempa Bumi Menghantam Lombok (2/Habis)

Published

on

BERUPAYA BANGKIT: Anwar Zen (kanan) tengah menyiapkan makanan laut bagi pengunjung rumah makan. Gempa membuat kunjungan pariwisata di Lombok, termasuk rumah makan tempatnya bekerja mengalami penurunan.(LUKMAN/BONTANG POST)
Dibaca normal 4 menit

Gempa bumi yang meluluhlantakkan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan hanya meruntuhkan bangunan dan mencabut nyawa para korbannya. Melainkan, turut mengubur impian mereka yang bertahan dan melanjutkan hidup setelah bencana mereda.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Manusia berusaha, Tuhan berkehendak. Tampaknya tepat menggambarkan suratan takdir yang dialami Haris Kadafi, pemuda 25 tahun asal Mataram. Cita-citanya berbisnis jual beli ayam mesti ditundanya tatkala gempa turut menerjang ibu kota NTB tersebut.

“Sebelum gempa, saya menabung. Mengumpulkan uang untuk modal berbisnis jual beli ayam. Ketika uangnya hampir terkumpul, musibah gempa datang,” kenang Haris saat media ini berkunjung ke Mataram, Kamis (29/11) pekan lalu.

Alhasil, uang yang rencananya digunakan untuk membuka usaha penjualan ayam itu pun beralih fungsi. Lantaran setelah gempa, kondisi ekonomi masyarakat Lombok termasuk Mataram mengalami kelumpuhan. Oleh Haris, modal usaha itu terpaksa digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. “Mau bagaimana lagi, ekonomi benar-benar lumpuh,” sebutnya.

Hari demi hari uangnya pun semakin menipis. Sementara Haris belum memiliki pekerjaan. Tak punya pilihan, dia lantas bergabung menjadi mitra salah satu penyedia jasa ojek online. “Daripada menganggur di rumah. Ya lumayan lah buat pemasukan sehari-hari,” ujarnya.

Haris mengaku masih trauma dengan gempa yang melanda Lombok. Walaupun rumahnya hanya mengalami keretakan, namun memori akan getaran yang begitu dahsyat masih kerap membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi bila teringat rumah-rumah yang runtuh di kawasan Gunung Sari, Lombok Barat. “Di sana yang parah. Sekarang saja saya merinding membicarakannya,” tutur Haris.

Bukan hanya Haris, Azhari (35) warga Mataram lainnya turut menjadi ojek online lantaran dampak gempa Agustus silam. Pasalnya, usaha kerajinan tempatnya bekerja di Lombok Utara hancur lebur diruntuhkan gempa. Tak punya pilihan lain, Azhari pindah ke Mataram dan menjadi ojek online.

Sebelumnya1 dari 3 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca