Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Bontang

Bangga Disebut Tuli

Published

on

JADI WADAH: Para Komunitas Tuli Genap Bontang saat berfoto bersama di Inbis Permata Bunda.(IST)
Dibaca normal 1 menit

TANGGAL 3 Februari silam menjadi tonggak pergerakan komunitas penyandang tunarungu di Bontang. Menggunakan nama “Bergerak dalam Senyap” atau disingkat GENAP, komunitas ini menjadi wadah bagi para penyandang tunarungu di Bontang. Bahkan anggotanya termasuk mereka yang memiliki pendengaran normal.

Setiap pekannya, di Inkubator Bisnis (Inbis) Permata Bunda yang berlokasi di Gang Aren, Jalan Ahmad Yani, Api-Api, komunitas ini membuka program Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Yang diikuti anggota komunitas serta para volunteer atau sukarelawan.

Dalam program ini mereka belajar bersama tentang komunikasi bahasa isyarat. Umumnya, program ini berjalan setiap Sabtu dan Minggu malam. Modul pembelajaran saat ini sedang tahap penyusunan. Diharapkan, modul tersebut secepatnya rampung sehingga dapat menjadi rujukan utama.

“Teman-teman dengar (normal, Red.) kami ajak untuk bisa bergabung belajar bersama,” tutur Rizky Erfanda Wahyu Pratama, Ketua Komunitas Tuli Genap Bontang.

Beberapa kegiatan pernah dilakukan komunitas ini. Seperti melakukan studi banding ke Komunitas Akar Tuli Malang, sebuah komunitas tunarungu di Malang yang sudah lebih maju. Dari studi banding ini para peserta perwakilan yang ikut juga dipersiapkan untuk pendampingan wirausaha.

Adapun kegiatan lainnya yang dilakukan seperti menghias kampung aren dan melakukan penggalangan dana untuk Palu di komunitas mereka.

Rata-rata, kata Rizky, anggota Tuli Genap Bontang semuanya tidak ada yang menganggur. Yang ada mereka juga terdiri dari berbagai profesi . Di antaranya ada yang magang di perusahaan, bekerja di usaha laundry pakaian, fotografi, poles mobil, merchandise, dan ada beberapa yang masih berstatus pelajar.

“Meski harus menggunakan bahasa isyarat, harus bangga dan jangan malu. Kita harus tunjukan kalau kita bisa,” sebutnya.

Dalam wawancara dengan Bontang Post, terungkap bila Rizky dan rekan-rekannya tak suka disebut sebagai tunarungu. Malahan, mereka lebih suka dan merasa nyaman disebut tuli. “Kata mereka, penyebutan tunarungu itu seperti orang sakit. Kalau tuli, itu adalah kehidupan mereka dan mereka bangga,” ungkap Jessie Agrippina Valencia, fasilitator sekaligus penerjemah di Inbis. (bbg/luk)

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments