Connect with us
Lomba Foto Pupuk Kaltim

Dahlan Iskan

Mimpi Istri Kandas di Tawau

Published

on

Dibaca normal 4 menit

Oleh: Dahlan Iskan

Di bandara ini ada dua koridor: untuk yang berpaspor Indonesia dan yang berpaspor Malaysia.

Suami-istri itu harus di jalur yang terpisah.

Mereka punya anak kembar. Umur 1 tahunan. Belum bisa jalan sendiri. Masih harus digendong. Belum tahu arti paspor.

Orang tuanya tidak bingung. Yang suami memilih di antrean Indonesia. Istrinya di antrean Malaysia.

Masing-masing menggendong satu anak.

Itulah suasana di terminal kedatangan bandara Tarakan. Yang sekarang berstatus bandara internasional. Meski rumput di tamannya tetap rumput lokal: yang sulit diatur, tidak dirapikan dan terlihat kotor. Seperti kompak dengan Tawau: dalam ketidakrapian.

Status bandara internasional Tarakan didapat karena: ada satu penerbangan dari Tawau itu. Yang setengah jam kemudian kembali ke Tawau itu. Seminggu tiga kali. Senin-Kamis-Sabtu.

Jarak terbangnya 45 menit. Dengan pesawat ATR. Milik anak perusahaan Malaysia Airlines: Mas Wing. Yang berbaling dua itu.

Hari itu saya kembali ke Indonesia. Lewat jalur ini. Berangkatnya dulu saya dari Surabaya. Ke Jogja. Lalu Jakarta. Palembang. Kuala Lumpur. Kota Kinabalu. Tawau. Terakhir Tarakan, Tanjung Selor, Berau dan Balikpapan.

Pesawat Tawau-Tarakan itu hampir penun. Kapasitasnya 70 orang. Saya sulit menduga. Berapa yang WNI dan berapa yang WN Malaysia. Raut wajahnya sulit dibedakan. Penumpang Tionghoanya pun sulit saya tebak: Tionghoa Tawau atau Tionghoa Tarakan.

Body language mereka sama. Wajah mereka sama. Bahasa mereka sama.

Baru di antrean imigrasi itulah saya tahu. Yang antre di jalur paspor Indonesia ternyata sama panjang. Dengan yang di jalur paspor Malaysia.

Yang saya juga tidak tahu: berapa di antara mereka yang suami-istri. Kecuali yang satu itu. Yang punya anak kembar lucu itu. Yang berwajah Tionghoa itu.

Sebelumnya1 dari 4 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca

Advertisement
Comments