Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]

Connect with us
Bermita Bersama Kami

HEADLINE

Dua Bayi di Kutim Idap HIV Tercatat sejak 2017, Disebut Butuh Penanganan Khusus 

Published

on

BERI PENJELASAN: Sekretaris KPAD Kutim, Harmadji sedang menjelaskan penanganan bayi pengidap HIV/AIDS.(LELA RATU SIMI/SANGATTA POST)
Dibaca normal 3 menit

SANGATTA – Kasus HIV/AIDS di Kutai Timur (Kutim) semakin memprihatinkan saja. Ironisnya, penanganan terhadap pengidapnya belum maksimal. Terbukti, dua bayi dengan HIV positif yang dilaporkan di 2017, kembali terdeteksi di 2018. Rupanya, kedua bayi ini belum mendapat penanganan yang memadai.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kutim, Harmadji Partodarsono menuturkan, dua bayi itu belum ditangani lantaran usianya saat ini masih tergolong rentan untuk diberi pengobatan. “Beberapa bayi yang terlahir, sudah mengidap penyakit ini. Ada beberapa penyebabnya, tapi biasanya karena tertular ibunya. Bisa juga dari ASI atau terjangkit sejak dalam rahim,” kata dia.

Disebutkan, keberadaan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tersebar di 15 kecamatan di Kutim. Sebanyak 133 ODHA bertahan hidup dan beraktivitas sehari-hari. Mayoritas ODHA, yaitu sebanyak 84 persen, berusia rentang 25 sampai 50. Namun ada juga beberapa di antaranya masih bayi.

Harmadji menjelaskan, penularan dari ibu ke bayi (PKIB) membutuhkan penanganan khusus. Bayi tidak dapat langsung diberi obat, namun harus ditunggu hingga usianya memenuhi syarat untuk diberi obat. Yakni saat menginjak umur 18 bulan.

“Bayi yang tahun lalu terus dipantau. Hanya saja belum bisa diberi obat. Nanti setelah satu setengah tahun, baru akan dimulai,” bebernya.

Berbeda dengan penanganan orang dewasa yang harus mengonsumsi obat sampai seumur hidup. Dalam menangani anak-anak tidak harus seperti itu. Dalam penanganan kasus ini, anak-anak bebas meminum obat hingga usianya yang ke-10 tahun.

“Kalau anak-anak sampai batas 10 tahun boleh tidak meminum obat lagi. Asal hidup normal tidak stres. Juga gizi dan nutrisi mencukupi,” papar Harmadji.

Kasus seperti ini tidak hanya ditemui di Kutim. Namun kerap terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Sehingga kementerian telah memprogram upaya pencegahan bayi dengan HIV/AIDS. “Program kementerian yang mewajibkan ibu hamil tes HIV, mulai dicetuskan sejak 2016. Kemudian 2017 mulai disosialisasikan. Hingga 2018 dilaksanakan dan mencapai 100 persen,” terangnya.

Sebelumnya1 dari 2 halaman
Gunakan tanda ← → (panah) untuk membaca