Kaltim

Cerita Laela Siddiqah Berpraktik sebagai Psikolog

Nama: Laela Siddiqah, S Psi, M Psi

TTL: Sleman, 22 Januari 1981

Suami: Sukarno

Anak:

  • Nisrina Bidayatussa’adah
  • Irfan Ahmad

Alamat: Jalan Piere Tendean Nomor 31 RT 09 Bontang Kuala, Api-Api

Alamat kantor: Lembaga Psikologi Insan Cita, Jalan S Parman RT 49 Bontang

Pendidikan terakhir:

  • S1 Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta (1999-2004)
  • S2 Magister Profesi Psikologi, Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta (2006-2009)

 

 

Pertemuan dengan mahasiswa psikologi di kala SMA membawa Laela Siddiqah pada bidang keilmuan ini. Mengikuti kegemaran mendengarkan curahan hati dari teman-temannya, Laela mengabdikan diri berkiprah di dunia psikologi membantu masyarakat Kota Taman.

LUKMAN MAULANA, Bontang

“Love for all, hatred for none.” Mencintai untuk semua orang, tidak ada kebencian untuk siapapun. Prinsip itulah yang dipegang teguh Laela dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam melakoni profesinya sebagai seorang psikolog.

“Cinta untuk semuanya, semua makhluk hidup, semua makhluk tuhan. Sementara kebencian tidak untuk siapapun,” tutur Laela menerjemahkan prinsip hidupnya tersebut.

Dengan prinsip itu, Laela menegaskan tidak boleh ada prasangka apapun ketika menemui klien-kliennya. Kata dia, meski memiliki nilai, latar belakang, agama, dan suku yang berbeda, tidak boleh melakukan penilaian terhadap klien. “Saya tidak boleh menggunakan nilai saya untuk mengukur salah benarnya si klien. Saya harus netral dan menghargai siapa dia,” jelasnya.

Hal ini lantaran menurut Laela setiap orang pastilah memiliki sisi baik. Ketika seseorang bermasalah, mungkin ada sesuatu yang tidak tepat pada dirinya. Sehingga menjadi masalah dan menjadi perannya sebagai psikolog untuk membantu penyelesaian masalah tersebut.

“Saya membantu yang bersangkutan (klien, Red.) untuk memahami persoalannya sendiri dan menemukan jawabanya.  Jadi saya nothing to lose, saya tidak ada beban pada orang lain. Dan harapan saya, orang lain pun tidak punya rasa yang tidak baik kepada saya,” urai Laela yang telah berpraktik di Bontang sejak 2010 silam.

Diceritakan, ihwal perkenalannya dengan dunia psikologi bermula ketika dia masih duduk di bangku SMA di Yogyakarta. Kala itu, dia bertemu dengan mahasiswa psikologi yang memberinya buku tentang pengembangan diri. Dari perbincangan akrab dengan mahasiswa tersebut terkait dunia psikologi, ketertarikan Laela pun timbul.

“Dari situ saya menganggap sepertinya piskologi itu asyik. Makanya ketika lulus SMA, saya jadikan jurusan pertama saat mendaftar ke Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Padahal saya anak IPA,” kisahnya.

Diterima masuk Fakultas Psikologi UGM di 1999, mulailah hari-hari Laela bergelut dengan beragam ilmu psikologi. Dia mengaku sempat kesulitan belajar ilmu psikolog. Lantaran muatan kuliahnya lebih banyak di hapalan. Terlebih Laela pada awalnya tidak suka membaca. “Harus baca buku-buku teks yang tebal-tebal, berbahasa inggris lagi,” imbuhnya.

Namun semangat belajar yang kuat membuatnya perlahan memahami satu per satu materi psikologi. Bahkan menurutnya ilmu tentang perilaku manusia ini sangat unik dan luar biasa. Di antaranya lantaran dia menjadi tahu bagaimana seseorang berperilaku, mengapa masalah yang sama bisa direspon berbeda, serta mengapa suatu situasi memunculkan perilaku tertentu.

Laela mulai mempraktikan ilmu psikologi yang dipelajarinya dengan menjadi educator di salah satu taman pendidikan anak. Setelah sebelumnya semasa kuliah sudah dipercaya magang paruh waktu di sana sebagai assistant educator.

Dia lantas semakin jauh menyelami psikologi dengan mengikuti pendidikan profesi sekaligus S2 magister profesi di UGM pada 2006. Padahal kala itu dia baru saja dinikahi sang suami, Sukarno yang berdomisili di Bontang. Hebatnya, meski pulang-pergi Bontang-Yogyakarta, Laela mampu lulus dengan predikat cum laude di 2009.

“Satu upaya yang tidak sederhana karena kuliah di magister profesi psikologi UGM. Namanya profesi, tidak hanya dituntut teori saja tetapi juga praktik,” terang Laela yang kala itu menyandang double degree.

Selepas lulus S2, Laela kembali ke Bontang. Di Bontang, Laela memutuskan mengabdikan dirinya di dunia psikologi dengan mendirikan lembaga psikologi yang diberinya nama Insan Cita. Lembaga ini didirikannya bersama beberapa teman yang memiliki kesamaan visi dengan bermodalkan kenekatan.

Diuraikan, latar belakang membuat lembaga psikologi ini karena belum ada lembaga psikologi yang murni ditujukan untuk masyarakat. Kalaupun ada, psikolognya tidak fokus sebab bekerja di instansi-instansi lain. “Selain itu kami juga ingin memperkenalkan tentang psikologi di Bontang,” kata dia.

Merintis lembaga ini diakui tidak mudah. Laela beserta rekan-rekannya mesti memperkenalkan diri, mengajukan proposal kepada lembaga-lembaga/instansi pendidikan, hingga perusahaan. Untuk menawarkan layanan-layanan yang diberikan lembaga tersebut.

“Layanan-layanan kami meliputi psikologi pendidikan, psikologi industri, asesmen pendidikan, asesmen psikologi industri, dan sebagainya. Termasuk juga melayani konseling-konseling kasus atau masalah-masalah psikologi,” beber ibu dua anak ini.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang mengenal lembaga psikologinya. Permintaan jasa pun satu per satu masuk. Laela menerangkan, pihaknya membuka diri seluas-luasnya untuk mengedukasi masyarakat dengan tema-tema psikologis. Meliputi pengasuhan (parenting), motivasi untuk anak-anak didik, guru-guru, dan motivasi untuk karyawan di bidang industri.

“Alhamdulillah kliennya semakin banyak dan bervariasi. Lembaga pendidikan banyak yang menggunakan jasa kami. Mulai dari persiapan sekolah, penjurusan, minat bakat anak, perilaku anak, termasuk anak berkebutuhan khusus,” urainya.

Bukan hanya di bidang pendidikan, kiprah Laela bersama lembaganya turut merambah lingkup industri. Dalam hal ini, pihaknya melayani rekrutmen/seleksi karyawan, promosi jabatan, profil karyawan, pemetaan jabatan dan sebagainya. Laela juga memberikan layanan konseling ke perusahaan.

“Kami memberikan layanan workshop minat, berupa pelatihan baik di pendidikan dan perusahaan dengan tema-tema yang sudah ditentukan,” kata perempuan kelahiran Sleman, 22 Januari 1981 ini.

Beragam layanan psikologi diberikan kepada para klien dari sekolah, perusahaan, dan masyarakat umum. Tidak hanya asesmen, layanan konseling juga diberikan. Masalahnya beragam, mulai dari tumbuh kembang anak, masalah remaja, kekerasan terhadap anak dan perempuan, tentang pernikahan, hingga masalah pekerjaan.

“Ya masalah-masalah psikologis pada umumnya. Seperti tidak percaya diri, kecemasan tinggi, sulit tidur, kemudian fobia. Dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah psikologi. Kami lakukan konseling dan terapi,” jelasnya.

Dalam masalah-masalah seperti itu, Laela mengurai, para klien datang lantaran mereka punya hal yang ingin diceritakan. Menurutnya, menceritakan masalah kepada profesional itu jauh lebih bermanfaat. Daripada bercerita kepada orang yang tidak berkompeten. “Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menjadi gosip,” tambah dia.

Diakui, kesadaran masyarakat untuk datang ke psikolog perlahan-lahan semakin meningkat. Dia pun menepis anggapan yang salah bahwa orang yang datang ke psikolog mesti mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Padahal tidak demikian. Untuk datang ke psikolog atau melakukan konseling, tidak harus menunggu mengalami gangguan jiwa.

“Itu salah, karena orang yang konseling ke psikolog bukan orang gila. Tetapi orang yang tahu dirinya punya masalah dan membutuhkan solusi masalahnya,” sebut Laela.

Lanjut dia, tidak perlu menunggu sampai masalah itu kompleks untuk datang ke psikolog. Bukan ketika sudah mengalami kecemasan tinggi, frustrasi, hingga depresi. Melainkan ketika seseorang punya persoalan pribadi yang tidak bisa dipecahkan. Dan membutuhkan saran dari orang yang punya kompetensi, alangkah baiknya datang ke psikolog.

Sementara untuk orang dengan gangguan kejiwaan, sejatinya merupakan ranahnya psikiater dan dokter spesialis kejiwaan. “Bukan ranahnya psikolog lagi. Kalau penanganan gangguan kejiwaannya sudah di tangan psikiater, kami psikolog hanya membantu masalah perilakunya,” terangnya.

Dijelaskan, menjadi psikolog membuat Laela mau tak mau menyelami permasalahan yang dimiliki orang lain. Dalam hal ini, permasalahan tersebut mesti bisa dipisahkannya  dengan permasalahan pribadinya. Sehingga tidak mengganggu pada diri psikolog itu sendiri. Kata Laela, sebelum memahami orang lain, seorang psikolog mesti memahami dirinya sendiri terlebih dahulu.

“Kami perlu membekali diri tentang bagaimana caranya bisa berempati pada orang lain. Tetapi kami tidak terlarut pada masalah orang tersebut,” sebutnya.

Lantaran ketika seorang psikolog berempati berlebihan, nantinya malah jadi ikut bermasalah. Pasalnya  energi klien itu menempel semua pada dirinya. Seorang psikolog perlu punya keterampilan untuk bisa menguasai perasaannya sendiri. Punya keterampilan untuk bisa meregulasi dirinya secara positif, sehingga permasalahan klien tidak mempengaruhi kehidupannya secara pribadi.

Meskipun di saat-saat tertentu diakui ada kalanya dirinya merasa lebih berat. Karena banyak dan beratnya kasus-kasus klien yang ditangani. “Dalam hal ini psikolog perlu refresh, perlu punya keterampilan untuk me-refresh dirinya sendiri. Makanya psikolog perlu membekali diri dengan berbagai keterampilan yang memang semestinya dimiliki,” tutur Laela.

Keterampilan-keterampilan ini perlu dimiliki karena psikolog memiliki peran untuk memfasilitasi orang lain yang punya masalah untuk bisa berdaya. Karena ujar Laela, sebenarnya yang bisa menyelesaikan masalah itu bukan psikolog. Psikolog hanya berperan sebagai fasilitaor untuk kemudian membantu orang yang punya masalah memahami situasi dirinya.

“Memahami masalahnya, memahami cara berpikirnya, memahami pilihan-pilihan solusinya, dan bagaimana yang bersangkutan kemudian berani membuat keputusan untuk menyelesaikan masalahnya,” sebutnya.

Ditanya tentang pengalaman paling berkesan, Laela menjawab ketika menangani kasus kekerasan terhadap anak. Lantaran membutuhkan upaya yang besar dalam penanganannya. Dalam hal ini dia harus menghadapi anak  korban kekerasan, untuk kemudian melakukan treatment, memulihkan trauma mereka.

Di satu sisi dia dihadapkan pada tugas berhadapan dengan pelaku kekerasan tersebut untuk melakukan pemeriksaan psikologis. Hal inilah yang menurutnya membutuhkan usaha yang cukup besar dalam mengelola dirinya agar tetap bersikap profesional. Tidak melibatkan emosi secara personal terhadap pelaku.

“Karena kalau menuruti kemauan saya, ketika melihat pelaku ingin sekali saya tonjok. Karena dalam kasus yang belum lama ini korbannya cukup banyak,” kata Laela.

Kegeraman Laela pada pelaku sangat beralasan. Pasalnya, seseorang yang harusnya mendampingi dan melindungi, menjadi contoh anak-anak, tapi justru merusak masa depan anak-anak itu. “Nah itu butuh usaha yang ekstra bagi saya untuk bisa profesional, tidak melibatkan emosi. Netral. Tugas saya memeriksa secara objektif untuk hasilnya diperlukan kepolisian,” sebutnya.

Diungkapkan Laela, sukanya menjadi psikolog tatkala di akhir sesi terapi yang dilakukan, klien mengalami perubahan positif. Misalnya yang tadinya ekpresi datar, berubah tersenyum dan lebih berenergi. Menurut dia, keberhasilan itu merupakan sesuatu yang tak terbayarkan dan melebihi nominal jasanya.

“Ketika klien merasa sudah bisa mengatasi masalahnya dan dia bertanggung jawab atas dirinya, itu artinya saya merasa berhasil. Tentunya ketika dia bisa menguasai dirinya dan hidup dengan bahagia, bisa survive, menjadi kepuasan bagi saya,” tuturnya.

Sementara duka menjadi psikolog, yaitu ketika tidak bisa membantu masalah klien dengan benar. Kata Laela, terkadang klien yang dibantu tidak cukup memiliki kemauan untuk menyelesaikan masalahnya. Hal ini membuatnya merasa sedih dan tidak dapat berbuat lebih banyak. Karena penyelesaiannya tidak bisa dipaksakan. “Kalau sudah begitu ya didoakan saja,” sebut Laela.

Dia mencontohkan untuk persoalan anak, terkadang orangtua tidak kooperatif. Hal ini banyak ditemukannya. Padahal dalam penyelesaian masalah anak, ada peran besar dari orangtua untuk turut menyelesaikannya. Karena permasalahan anak ini tidak berdiri sendiri, baik dari penyebab maupun dalam hal penyelesaiannya.

“Ketika orangtua kooperatif dan mau memahami, terlibat dalam konselingnya, pasti akan ada perubahan yang baik. Tetapi ketika orangtua tidak memahami, saya ya tidak bisa berbuat banyak. Kondisi anak yang sebenarnya mendukung, namun akan kembali ke kondisi awal bila orangtuanya tidak terlibat,” jelasnya.

Bagi Laela, berkiprah menjadi psikolog merupakan bagian dari menjalankan amanah. Yaitu amanah lantaran telah mendapat pendidikan psikologi. Sehingga  sudah menjadi tugasnya mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Sebagaimana yang jamak dilakoni alumni UGM yang menjadi almamaternya.

“Pemahaman itu sudah diterima keluarga saya. Terutama suami yang memberikan izin kepada saya untuk berkiprah dalam masyarakat,” tutur Laela.

Memang seabrek kegiatan memenuhi agenda Laela setiap harinya. Baik di lembaganya maupun di instansi lain yang menaruh kepercayaan kepadanya. Di antaranya di Klinik Tumbh Kembang Anak RSIB Yabis, di lembaga sosial Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang sifatnya sebagai relawan.

“Sekarang bagaimana saya pintar-pintar membagi waktu. Keluarga sangat penting bagi saya. Karena mereka mengizinkan dan meridai sehingga saya tetap melakukan hal-hal positif,” tutur perempuan yang sempat bercita-cita menjadi insinyur ini.

Laela berharap, semakin banyak psikolog di Bontang yang memiliki kepedulian untuk turut membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Karena keberadaan sumber daya manusia dengan ilmu psikologi ini sangat dibutuhkan di Bontang.

“Mudah-mudahan para psikolog muda asal Bontang yang baru-baru lulus, bisa kembali ke Bontang. Harapannya lebih memberdayakan diri untuk lebih pedulil pada masyarakat. Lebih terbuka mengasah sisi kemanusiaannya, membantu menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat yang sekarang cukup kompleks,” pungkas Laela. (***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

Close
Back to top button