Pesan Mahasiswi Pembunuh Bayi ke Kekasih: Aku Bunuh

SAMARINDA – Tewasnya bayi perempuan di tangan ibunya sendiri, Farida Jumiati Rifanggi (22), menguras emosi masyarakat. Bayi itu diketahui hasil dari hubungan gelap dengan oknum polisi berpangkat brigadir polisi dua (bripda), yakni Soleh. Belum diketahui pasti keterlibatan sang bapak dalam kasus tewasnya bayi yang baru dilahirkan kekasihnya. Namun, sanksi berat menanti keduanya.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Samarinda, Ipda Bunga Tri Yulitasasri menuturkan, Soleh sudah diperiksa di Nunukan. “Handphone dia (Soleh) informasinya juga sudah disita sebagai barang bukti,” jelas polwan balok satu tersebut. Perwira itu juga menjelaskan, sanksi disiplin tengah menanti Soleh. “Kalau memungkinkan, bisa berangkat ke sana (Nunukan) untuk memeriksa yang bersangkutan,” sambung Bunga.

Sejatinya, sang ibu yang berstatus mahasiswi semester akhir di perguruan tinggi swasta di Samarinda, ingin merawat buah hatinya, meski hasil dari hubungan gelap dengan oknum polisi. Bahkan, hampir semua perlengkapan bayi sudah ada di kamar indekosnya, di Jalan Pramuka 6, RT 30, Blok D, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu, tepatnya di “Kos Mawar”.

Sayangnya, nasib bayi perempuan itu tak diinginkan lahir ke dunia. Tangan kiri Farida, membekap mulut buah hatinya. Meski dengan meneteskan air mata. Karena keberadaan sang bayi tak ingin diketahui tetangganya. Setelahnya, dia menghubungi Soleh melalui pesan WhatsApp. “Aku bunuh,” tulis Farida dalam percakapan pribadinya dengan kekasihnya.

Air matanya tak bisa dibendung, saat perempuan berjilbab itu duduk dan tertunduk di hadapan penyidik. Malu setengah mati, ditambah masalahnya yang diketahui publik, mengancam dirinya trauma. “Kami berikan pengacara sebagai bentuk pendampingan hukum perkaranya,” tegas Bunga.

“Mba, kok tega?” tanya harian ini. Namun Farida memilih menutup wajahnya. Sesekali dia memalingkan kepalanya, memastikan jika tak ada lagi yang mengambil gambarnya saat memberikan keterangan ke polisi. Sebagai mahasiswi, dia juga menyandang status tersangka. “Pak, aku minta maaf,” sepintas kalimat terdengar ke seorang pria, yang disebut polisi adalah ayah kandung Farida. Wajah pria yang identitasnya tak ingin disebut polisi itu hanya bisa lemas. Dan tak menyangka, anaknya tega menghabisi nyawa sang buah hati.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept