Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]
Dahlan Iskan

Sopir Taksi Maksi

“Pak Dahlan ya…?” tanya sopir taksi itu. Saat saya masuk ke Blue Bird. Di dekat rumah saya di SCBD Jakarta.

Saya tersenyum saja.

Teman saya yang menegaskan.

“Betul,” ujar Achmad Jauhar, teman saya itu. Ia ketua harian pengurus pusat Serikat Penerbit Pers. Yang dulu bernama Serikat Penerbit Suratkabar (SPS). Yang saya ketua umumnya. Sejak 15 tahun lalu. Sampai bulan depan.

“Saya pernah naik pesawat bersama bapak,” ujarnya. Sambil mulai menginjak gas.

Saya mulai curiga. Siapa ia. Saya lihat namanya. Di dashboard Taksinya: Ali Ismail Irfan.
Tapi nama itu tidak membantu saya ingat apa-apa.

Saya cari akal untuk mengetahui siapa Irfan.

“Waktu naik pesawat itu Anda dari mana?” tanya saya.

“Dari Solo,” jawabnya.

“Oh… Asli Solo ya…?”.

“Bukan. Saya asli Pekalongan tapi lahir di Jakarta.”

“Di Solo lagi ngapain waktu itu?” tanya saya tidak sabar. Kok gak segera terungkap siapa Irfan.

“Ngurus usaha”, katanya.

Nah. Mulai terungkap sedikit. Tapi saya masih harus kejar lebih intensif. Sebelum turun nanti sudah harus jelas siapa Irfan.

“Usaha apa?” saya mulai to the point.

“Alat berat.”

Ups…

“Milik sendiri?”

“Iya.. “.

“Kok sekarang jadi sopir Taksi?”

“Saya bangkrut.”

“Oh…maafkan,” kata saya. Terdiam. Lama.

Lalu saya lihat layar HP itu. Yang dipasang di dashboard itu. Ada foto wanita. Mencolok. Berkebaya merah. Berjilbab. Duduk di dekat kursi mewah. Juga warna merah. Posisi duduk wanita itu seperti seorang yang tahu benar modeling. Kursinya seperti kursi raja.

“Itu foto di studio?”

“Di rumah saya,” katanya.

Ups…

“Ini istri saya,” kata Irfan. Ia tahu kalau saya tidak hanya terdiam. Tapi juga mengamati foto di layar HP itu.

1 2 3 4Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Comment

Back to top button