Penurunan Harga Batu Bara Masih Wajar

Dia mengatakan, sejauh ini dampak ikutan kepada mikro ekonomi pendamping batu bara tak sepenuhnya mengkhawatirkan. Meski diakuinya bahwa pengusaha pasti menahan jumlah produksinya, dalam volume yang tidak banyak. “Ke depan, solusi kebijakan DMO (domestic market obligation) atau penyerapan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri cukup memberi harapan,” tuturnya.

Senada, Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim Muhammad Hamzah mengatakan, lima tahun ke depan akan terjadi penurunan drastis dari produksi batu bara. Sehingga, penyiapan infrastruktur hilirisasi industri, hingga mengangkat kualitas serta kuantitas produk UMKM perlu dilakukan untuk menggantikan posisi batu bara dalam urusan ekspor.

“Potensi perkembangan UMKM itu yang bisa dikembangkan. Potensi kita punya, kami akan bantu untuk menyiapkan semua agar mereka pelaku UMKM siap. Karena untuk ekspor perlu dipastikan produksi stabil dan kualitas terjaga,” ujar Hamzah.

Menurutnya, UMKM memang harus disiapkan dari sekarang. Karena, produksi batu bara yang terus menurun akan membuat nilai ekspor Kaltim juga menurun. Apalagi kontribusi batu bara sangat besar terhadap struktur ekspor Bumi Etam.

“Sektor penggantinya harus sudah kita siapkan. Bahkan, kami siap untuk mengembangkan lewat program CSR para perusahaan ekspor. Sehingga kelak penurunan harga produksi batu bara tidak akan begitu terasa pada dunia ekspor Kaltim,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k15/kpg)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept