Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]
Ragam

Diagnosis Pasien Hanya Butuh 5 Menit, BPPT Siap Komersialkan Kit DBD

Alat diagnosis demam berdarah dengue (DBD) atau kit DBD bikinan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah beres. Akhir tahun ini alat tersebut bisa dikomersialkan.

Perkembangan terbaru terkait kit DBD disampaikan Perekayasa Utama BPPT Imam Paryanto di sela-sela seminar inovasi pangan dan kesehatan di Jakarta kemarin (6/2). Imam mengungkapkan, saat ini ada penjajakan kerja sama dengan sejumlah mitra farmasi. Di antaranya adalah Kimia Farma dan Prodia.

BPPT, jelas Imam, belum bisa memperkirakan harga kit DBD itu. Mereka hanya menyebutkan bahwa harga kit serupa bikinan luar negeri sekitar Rp 200 ribu. Namun, menurut dia, urusan harga ditetapkan perusahaan farmasi dengan pertimbangan bisnis masing-masing.

Menurut Imam, serangkaian uji coba sudah dilakukan. Perangkat tersebut bukan kategori obat atau makanan, melainkan alat kesehatan (alkes). Karena itu, tidak diperlukan pengujian di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Yang diperlukan adalah izin edar dari Kementerian Kesehatan,” ucapnya.

Namun, bukan BPPT yang mengurus izin edar tersebut, melainkan perusahaan farmasi. Mereka yang akan menjalin kontrak hak komersialisasi dengan BPPT. Isi perjanjian yang sedang dimatangkan antara lain soal royalti.

Imam menceritakan, penggunaan kit DBD karya BPPT tersebut cukup ringkas. Cukup meneteskan darah di kit, 5-10 menit kemudian akan diketahui apakah yang bersangkutan positif terkena DBD atau tidak. Meski sederhana, mirip pengecekan kehamilan, BPPT tidak menganjurkan pasien mengecek sendiri. Pengecekan harus didampingi dokter atau dilakukan di fasilitas kesehatan (faskes).

BPPT tidak berhenti pada kit DBD saja. Mereka juga bakal mengembangkan kit untuk mendiagnosis penyakit tifus. Imam berharap kit DBD tersebut bisa menjadi momentum Indonesia untuk mandiri pada urusan alkes.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan menuturkan, pengurusan izin edar tidak bisa berjalan cepat. “Dalam prosesnya tentu ada beberapa dokumen yang masih kurang dan harus dilengkapi,” jelasnya. Namun, dia optimistis kit DBD segera mendapatkan izin edar dari Kemenkes. (jpc)

1 2Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Comment

Back to top button