Bontang

Jentik Nyamuk Ada di Mana-Mana, Kasus DBD Capai Seratus Lebih dalam Dua Bulan

MEREBAKNYA demam berdarah dengue (DBD) di Bontang dan sekitarnya membuat Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang kewalahan. Sampai-sampai tenaga dan bahan untuk melakukan fogging atau pengasapan tidak cukup untuk memberantas populasi nyamuk dewasa.

Diana Nurhayati selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Bontang menuturkan, hampir di seluruh kelurahan di Bontang terdapat kasus DBD.Bahkan dia menyebut keberadaan jentik-jentik nyamuk aedes aegypty yang merupakan vektor penyebaran DBD sudah tersebar di seluruh wilayah Bontang.

“Berdasarkan survei kader kami, jentik itu ada di mana-mana. Hampir seluruh kelurahan ada. Kalau di Loktuan itu juga ada jentik nyamuk anopheles (penyebab malaria, Red.),” terang Diana kepada BontangPost.id.

Potensi peningkatan kasus DBD ini rupanya sudah diprediksi pada Desember 2018. Lantaran di bulan tersebut sudah tercatat peningkatan kasus DBD. Terutama di Kecamatan Bontang Selatan dan Bontang Utara.

Sehingga Diskes mengadakan rapat koordinasi dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Bontang pada awal Januari 2019. Tujuannya meminta bantuan ke perusahan untuk memutus rantai penyebaran DBD lewat fogging. Supaya di awal 2019 tidak ada ditemukan kasus DBD.

“Kalaupun ada (kasus DBD), perkiraan kami jumlahnya tidak terlalu banyak karena musim hujan,” tambahnya.

Nyatanya, jumlah kasus DBD malah meningkat drastis pada Januari hingga Februari 2019 berjalan. Diskes mencatat, hingga pekan ketujuh 2019, sudah ada 106 kasus DBD di Kota Taman. Meliputi 43 kasus di Bontang Selatan, 41 kasus di Bontang Utara, dan 22 kasus di Bontang Barat. Angka ini menurut Diana mengalami lonjakan bila dibandingkan pada 2018.

“Biasanya di awal Januari jumlah kasusnya tidak setinggi itu. Ternyata pada awal Januari menjadi tinggi,” ungkap Diana.

Rapat koordinasi dengan perusahaan pun kembali digelar. Kali ini, lima perusahaan yang ada di Bontang meminta pemetaan wilayah-wilayah yang perlu dibantu perusahaan. Diskes lantas memberikan pemetaan, pembagian wilayah fogging dari perusahaan yang waktunya merentang dari 11-20 Februari 2019.

“Dari perusahaan meminta agar pihak kelurahan juga dilibatkan dalam fogging ini. Karena sebelumnya pernah terjadi ada warga yang menolak fogging,” bebernya.

Dijelaskan, ketika penyebaran DBD sudah meluas sebagaimana saat ini, harus dilakukan upaya fogging serentak secara menyeluruh. Tidak hanya fogging, tapi juga harus diimbangi kerja bakti dan abatisasi atau pembasmian jentik nyamuk dengan abate. Karena kalau cuma fogging saja dianggap tidak mampu memberantas nyamuk aedes aegypty.

“Yang lebih efektinya sebenarnya 3M. Menguras, menutup, dan mendaur ulang. Kita usahakan di setiap lingkungan jangan sampai ada jentik. Kalau jentik itu hilang, otomatis tidak akan ada nyamuk yang hidup. Terutama nyamuk dengue,” tegas Diana. (luk)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button