Nasional

Ramai Politisasi Agama, Muhammadiyah Serukan Beragama dan Berpolitik yang Mencerahkan

JAKARTA – Politisasi agama cukup masif menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 17 April mendatang. Hoaks terkait agama meluas di media sosial. Aksi saling hujat menghiasai dunia maya. Muhammadiyah memberikan perhatian serius terhadap persoalan. Masyarakat diajak beragama dan berpolitik yang mencerahkan.

Seruan itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat pembukaan Sidang Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Bengkulu kemarin (15/2). Menurut dia, dalam sidang tanwir kali ini, pihaknya mengangkat tema beragama yang mencerahkan. Tema itu berdasarkan pertimbangan bahwa Muhammadiyah dituntut untuk menyebarkan praktik-praktik yang mencerahkan agar umat Islam selalu cerah dalam pikiran dan tindakan. “Berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Alquran,” terang dia.

Tokoh kelahiran Bandung itu menyatakan, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak banyak pengamalan agama yang belum mencerahkan. Misalnya, sikap ekstrim, intoleransi, penyebaran hoaks, dan politisasi agama. Selain itu ada pula ajaran-ajaran yang buruk, seperti kebencian, dan permusuhan. Padahal, kata dia, Islam mengajarkan rahmatan lilalamin.

Haedar menyatakan, Muhammadiyah ingin mengembalikan keutuhan Islam yang mencerahkan. Dari kegelapan menjadi bercahayakan nilai-nilai ilahi. Pencerahan yang diajarkan Islam melekat dengan kerisalahan Muhammad sebagai nabi dan rasul letika menerima wahyu pertama, iqra.

Menurut dia, iqra bukan hanya membaca secara verbal tetapi juga membaca ayat-ayat kauniah, sehingga manusia memiliki budi yang utama dan baik. Iqra mengajarkan setiap muslim untuk memiliki kacamata bayani, burhani dan irfani. “Menjadi manusia-manusia yang baik dan unggul,” terangnya.

Islam mengajarkan kemuliaan akal budi. Jika akal budi dipraktikan dalam sikap dan tindakan, maka akan memancarkan rahmat bagi semesta alam. Muslim yang mencerahkan tidak akan mudah menyebar marah bagi lingkungan dan alam semesta. Bahkan muslim yang tercerahkan akan menggelorakan amal saleh.

Mantan sekretaris umum PP Muhammadiyah itu menerangkan, agama yang mencerahkan dapat membangun keadaban publik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masih banyak hal positif, seperti ta’awun, toleransi, dan gotong royong. Namun, hal positif itu kadang terkalahkan dengan kepentingan yang mudah membelah.

Kepentingan politik dikedepankan,sehingga melahirkan perangai fanatik buta. Politik menjadi sesuatu yang absolut. Sikap fanatik dan keras itu memunculkan aura untuk berhadapan seperti perang saudara. Haedar pun mengajak semua pihak untuk berpolitik yang mencerahkan. Menurut dia, Muhammadiyah dituntut menyebar aura pencerahan dalam politik kebangsaan.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengapresiasi gagasan ataupun narasi “beragama mencerdaskan” yang digulirkan Muhammadiyah dalam Tanwir ke-51. Dia menilai, gagasan tersebut menjadi harapan khalayak umum. “Saya kira kehendak dari masyarakat dan juga pemerintahnya ya ke sana. Beragama yang mencerahkan,” ujarnya usai membuka acara.

Lantas, apakah cara beragama saat ini kurang mencerahkan, Jokowi menyebut masyarakat bisa merasakan nuansanya. Namun demikian, Jokowi menilai tema yang diusung Muhammadiyah sangat relevan dengan kondisi yang ada saat ini.

Dalam sambutannya, presiden menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah yang telah ikut berjuang sepanjang perjalanan bangsa Indonesia. Selain itu, Muhammadiyah juga dinilai telah meneguhkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika melalui tokoh-tokoh yang dilahirkannya.

“Mulai dari K.H. Ahmad Dahlan, Ibu Nyai Walidah Ahmad Dahlan, Ir. Sukarno, Ibu Fatmawati, dan sampai dengan Bapak Kasman Singodimedjo,” imbuhnya.

Lebih lanjut lagi, Indonesia juga berterima kasih atas amal usaha Muhammadiyah yang banyak memberikan manfaat. Jokowi sendiri mengaku pernah mengunjungi dan menggunakan institusi Muhammadiyah baik sekolah, pesantren, hingga rumah sakit di berbagai kota di Indonesia.

“Supaya juga bapak ibu ketahui Ibu Iriana itu berkuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Cucu saya, Jan Ethes, itu lahir di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo, mungkin ada yang belum tahu,” pungkasnya. (lum/far/jpg)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button