Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]
Feature

Investasi Rp 500 Miliar, Minat Bangun Reaktor di Kota Minyak

Meski sudah banyak digunakan negara maju, Indonesia seolah masih alergi terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Lalu mengapa demikian? Dan bagaimana Benua Etam berperan dalam pengembangan PLTN ini?

M RIDHUAN, Balikpapan

PADA masa kepemimpinannya, Awang Faroek Ishak menyatakan siap untuk bangun PLTN pada 2016. Namun tiga tahun berlalu, hingga Kaltim dipimpin Isran Noor sebagai gubernur, kabar proyek yang direncanakan di Berau itu bak ditelan bumi.

Selasa (19/2) lalu PLTN kembali jadi perbincangan. Saat Kaltim Post bersua dengan Chief of Representative Thorcon International, Bob Soelaiman Effendi di Balikpapan. Pria yang menggeluti dunia energi selama 25 tahun itu membawa mimpi baru yang sudah disusun matang. Dengan rencana besar melibatkan Kaltim. Berikut petikan wawancaranya.

Mengapa PLTN tak kunjung direalisasikan?

Karena sejak awal ada narasi yang salah. Baik dari pemerintah, media massa, hingga ke masyarakatnya.

Narasi seperti apa?

Pertama soal aturan. Sebenarnya tak ada regulasi yang melarang Indonesia membangun PLTN. Bahkan sudah menjadi amanat Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional, Indonesia sudah harus memanfaatkan PLTN tahun 2024. Bahkan dikuatkan dengan Perpres Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN (Rencana Pembangunan Jangan Menengah Nasional) yang ditandatangani Presiden Joko Widodo.

Lalu apa yang menghalangi pelaksanaan UU ini?

Nah, ada PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 79 Tahun 2014 tentang kebijakan energi nasional. Di dalamnya Pasal 11 Ayat 3 ada menempatkan nuklir sebagai opsi terakhir. Yang dari penelusuran saya ada diduga itu pasal selundupan. Yang dibuat oleh oknum anti nuklir. Tapi saya tak bisa sebutkan oknum itu.

Apakah PLTN memang mendesak?

Tentu. Indonesia masih krisis energi. Yang hingga kini belum ditemukan solusinya bahkan dengan energi baru terbarukan. Jadi nuklir ini memang menjadi pilihan terakhir. Sementara menurut laporan asosiasi penambang batu bara berdasarkan kajian yang di lakukan oleh Price Water House Copper (PWC), batu bara Indonesia hanya cukup sampai tahun 2033.

1 2 3 4 5Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Comment

Back to top button