Bontang

Fogging Kurang Efektif Atasi DBD, Dinas Kesehatan Tegaskan Pentingnya PSN

ANGKA kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bontang mengalami peningkatan secara signifikan di awal 2019. Baru dua bulan saja, jumlahnya sudah mencapai 148 kasus positif DBD. Sementara untuk demam dengue (DB) tercatat 128 kasus, dan suspect DBD mencapai 67 kasus. Angka ini menurut Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang sudah termasuk membahayakan.

Untuk itu, masyarakat Bontang diminta memiliki kesadaran dan kemauan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di rumah masing-masing. Yaitu mencegah munculnya jentik-jentik nyamuk aedes aegypti yang menjadi vektor penyakit DBD ini.

“Pengendalian yang paling murah adalah PSN. Ini yang membutuhkan kesadaran masyarakat. Harapan kami untuk ke depan bukan hanya fogging, tetapi juga PSN yang meliputi 3M plus wajib dilakukan,” kata Diana Nurhayati selaku Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Bontang dalam jumpa pers, Jumat (22/2/2019).

Dijabarkan, PSN meliputi pemantauan jentik nyamuk di dalam maupun di sekitar rumah. Hal ini bisa dilakukan dengan keberadaan juru pemantau jentik (jumantik). Pada masing-masing rumah, di harapkan ada satu anggota keluarga yang melakoni tugas ini, memastikan tidak ada jentik nyamuk khususnya di tempat-tempat yang memungkinkan air tergenang.

“Masyarakat selalu meminta fogging. Padahal fogging kurang efektif. Belum tentu nyamuknya terbunuh semua. Karena kalau tidak tepat waktu penyemprotannya, nyamuk masih bisa sembunyi. Bisa bertelur dan sekalinya bertelur mencapai 200-an jentik. Fogging itu hanya membunuh nyamuk, tetapi tidak membunuh jentik-jentiknya,” beber Diana.

Karena itu, dia berharap masyarakat melakukan kerja bakti terlebih dahulu sebelum fogging dilakukan. Untuk memastikan tidak ada genangan air di lingkungan sekitar. Pun dengan 3M mesti digalakkan, meliputi menguras dan menutup bak air, serta mendaur ulang barang bekas. Langkah-langkah itu termasuk pemberian larvasida atau abate, bisa mematikan jentik-jentik nyamuk.

“Kami telah berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk menggalakkan kerja bakti ini secara serentak. Karena hampir di semua kelurahan terdapat jentik dan tercatat ada kasus DBD,” ungkapnya.

Ditambahkan Kasie Surveilans, Imunisasi, dan Penanggulangan Wabah Bencana, Adi Permana, efektivitas fogging sejatinya berlangsung terbatas. Saat pagi, efektivitasnya membunuh nyamuk dewasa hingga pukul 09.00 Wita. Sedangkan senja, antara pukul 16.00 sampai pukul 18.00 Wita. Hal ini lantaran bahan aktif fogging akan rusak oleh paparan sinar ultraviolet atau sinar matahari.

“Waktu efektif pukul 07.00 sampai 08.00 Wita. Saat matahari belum terlalu cerah. Karena nyamuk itu tidak mau terkena sinar matahari, ketika siang hari memilih sembunyi. Lebih banyak berada di dalam rumah,” terang Adi.

Sehingga sejatinya proses fogging yang efektif diawali dari dalam rumah baru menyebar ke lingkungan luar. Bukan dari luar baru ke dalam rumah. Karena ketika fogging dilakukan dari luar, nyamuk akan bersembunyi ke dalam rumah dan sulit dideteksi.

“Sementara masih banyak masyarakat yang tidak mau dilakukan fogging di dalam rumah,” tegasnya.

Pun demikian, Adi menyebut fogging membutuhkan biaya yang tidak murah. Untuk satu fokus fogging dengan area mencapai 13 hektare, dibutuhkan biaya hingga Rp 4,5 juta.

“Kalau semua mau di-fogging butuh berapa banyak (anggaran)? Padahal efektivitasnya kurang,” sambung Adi. (luk)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button