Nasional

Pernikahan Dini Ternyata Picu Stunting

JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ikut menyemarakkan Hari Gizi Nasional 2019. Secara khusus mereka memaparkan soal upaya  prevalensi stunting dan diabetes dengan asupan nutrisi dari bahan pangan lokal.

Tahun lalu proporsi stunting pada balita Indonesia mencapai 30,8 persen. Sementara itu prevalensi penderita diabetes juga mengalami peningkatan. Yakni dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen. Nah dengan kondisi tersebut, baik stunting maupun diabetes harus ditangani.

Untuk mengatasi stunting misalnya, Peneliti Kependudukan LIPI Yuly Astuti menuturkan hasil kajiannya menunjukkan pernikahan dini ikut memicu terjadinya stunting. “Sebab ketika perempuan menikah pada usia dini, kemudian hamil, maka rentan mengalami anemia,” katanya di kantor LIPI kemarin (28/2). Ibu hamil yang anemia, berpotensi menimbulkan persoalan gizi pada anaknya.

Yuly mengatakan mencegah stunting terdiri dari dua upaya. Pertama adalah upaya langsung seperti pemenuhan gizi pada ibu hamil maupun bayi baru lahir sampai usia dua tahun. Namun intervensi langsung seperti ini ternyata hanya berdampak 30 persen pada pengurangan stunting.

Justru yang menimbulkan dampak besar hingga 70 persen adalah intervensi tidak langsung. Meliputi faktor sosial, ekonomis, kemiskinan, dan pendidikan. Urusan pernikahan dini tersebut masuk dalam intervensi tidak langsung. Dia mengapresiasi upaya Puskesmas di Kota Mataram yang membuat program Peduli Ibu Hamil Anemia (PIHA).

Sementara itu itu terkait dengan mengurangi kasus diabetes, peneliti LIPI menawarkan konsumsi singkong kaya vitamin dan buah kedondong. “Sayangnya singkong dicap makanan desa. Padahal saya suka singkong,” kata peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Ahmad Fathoni.

Dia mengatakan tantangan saat ini adalah bagaimana menyajikan olahan singkong sehingga menjadi menarik. Dia mencontohkan ada olahan kue bolu dan brownies berbahan singkong. Kemudian juga ada singkong “keju” yang lembut dimakan setelah digoreng. “Padahal itu tidak ada kejunya,” katanya.

Selain itu konsumsi olahan daun kedondong hutan juga bisa mengurangi diabetes. Peneliti Balai Konservasi dan Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali Wawan Sujarwo mengatakan masyarakat Bali selama berabad-abad sudah menggunakan daun kedondong hutan sebagai obat tradisional diabetes. Sebab ada kandungan antioksidan dan polifenolnya. “Mereka biasanya mengkonsumsi daun kedondong segar sebagai sayuran. Atau direbus dahulu sebagai minuman obat,” pungkasnya.  (wan/jpg)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button