Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]
Dahlan Iskan

Xinjiang

Waktu dimasukkan P7 status Erfan adalah pemain depan Jiangsu FC. Kini ia sudah bersama-sama teman timnya lagi. Liga sepakbola Tiongkok memang baru saja dimulai lagi. Minggu lalu. Jiangsu menjadi tuan rumah. Untuk pertandingan pertama musim ini. Jiangsu menang 3-2 lawan tim ‘kampung saya’ Tianjin. Saya lihat Erfan belum diturunkan.

Xinjiang punya sejarah panjang. Yang ruwet. Xinjiang menjadi bagian Tiongkok sejak dinasti Qing. Di tahun 1759. Sejak raja Islam di sana  menyerahkannya ke kaisar  Qing. Daripada jatuh lagi ke suku Dzung. Yang sudah nyaris menjatuhkan raja Burhanuddin.

Turki lah yang berjasa mengislamkan wilayah itu. Nama kawasan ini pun pernah disebut Turkistan. Xinjiang begitu luasnya. Tapi hanya 9 persen dari buminya yang bisa dihuni manusia. Sisanya gurun pasir. Dan gunung batu. Sangat panas di bulan Agustus. Sangat dingin di bulan Januari.

Xinjiang-lama juga tidak pernah menyatu dalam satu pemerintahan. Banyak penguasanya. Setiap suku punya daerah kekuasaannya sendiri. Saling perang pula. Setidaknya ada 9 suku yang saling berebut kuasa. Yang terbesar adalah suku Uyghur.

Banyak di antara tokoh masa lalunya yang sebenarnya idealis. Menginginkan agar Turkistan bersatu. Menjadi satu negara Islam yang rukun. Tapi tidak pernah kesampaian.

Begitu banyak kekuatan asing yang ikut bermain. Pun di zaman baheula: Rusia, India, Pakistan, Afganistan, Mongolia sampai ke Inggris.

Begitu sulitnya kelompok-kelompok Islam di sana bersatu. Kekuasaan telah mengalahkan ukhuwah Islamiyah. Pun zaman sekarang. Di mana pun.

Sampai-sampai pernah ada ide unik di Xinjiang. Sebuah ide yang sebenarnya ‘out of the box’. Para pimpinan Islam di sana membuat usul: bagaimana kalau semua suku Islam di sana  mengalah. Menyerahkan jabatan kepala negara kepada  orang luar. Sekalian agar bisa merukunkan mereka. Agar tidak ada lagi yang rebutan kekuasaan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Comment

Back to top button