Feature

Diduga Gizi Buruk, Bayi Kembar Sembilan Bulan Hanya Berbobot 3,8 Kilogram

PASANGAN Yuliawati dan Suryanto sebelumnya telah memiliki empat anak. Jumlah keluarga mereka bertambah, pada 24 Mei 2018. Yuliawati melahirkan sepasang anak kembar Muhammad Avatar dan Muhammad Alif. Namun, karena alasan ekonomi membuat pertumbuhan tubuh kedua bocah bayi itu tak mampu berkembang baik. Diduga keduanya mengalami gizi buruk.

Beranjak usia sembilan bulan, bobot tubuh Alif tak kunjung naik. Bahkan menyusut. Semestinya bocah seusianya memiliki bobot 7–8 kilogram. Kelopak mata cekung, pergelangan tangan dan kakinya hanya berbalut kulit. Barisan rusuk juga mencuat di permukaan dada.

Menandakan tak banyak daging yang membalut tubuh putra pasangan Yuliawati dan Suryanto itu. Ketika melahirkan, Yuliawati hanya ditemani seorang bidan. Dia melahirkan di rumahnya, Jalan Abadi, Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah. Avatar lebih dulu lahir dengan berat 2 kilogram. Beberapa menit berselang, Alif lahir dengan berat 1 kilogram.

Tiga bulan berselang usai melahirkan, ternyata payudara Yuliawati tak mampu memproduksi air susu ibu (ASI). Dari situlah perlahan berat tubuh sang buah hati menurun. Kondisi perekonomian pas-pasan, jangankan membeli popok, susu formula pun tak bisa dia berikan.

Walhasil, ketika keduanya merengek entah karena haus ataupun gerah, Yuliawati hanya memberikan air teh. Bahkan minuman kemasan sempat pula diberikan. Berharap menghilangkan dahaga sang anak. “Selama enam bulan saya kasih bubur. Nasi dicampur air. Kalau ada duit ya beli susu, kalau enggak ya air teh saja,” ujar perempuan 31 tahun tersebut.

Yuliawati sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebulan belakangan dia tak lagi bekerja. Alasannya demi menjaga sang buah hati. Dia menuturkan, anak sulungnya kini duduk di bangku kelas tiga SMA dan anak keempatnya belum bersekolah.

Dikatakan, bila bukan dia, siapa lagi yang dapat diandalkan menjaga anak kembarnya tersebut. Sebelumnya perekonomian keluarganya tak begitu buruk. Hingga sang suami, Suryanto, yang merupakan karyawan salah satu kontraktor di Pertamina divonis terkena strok tiga tahun lalu. Tubuh bagian kiri pria 40 tahun itu tak bisa digerakkan.

Alif dan Avatar sudah menjalani perawatan hingga dua kali di RSUD Beriman Balikpapan. Pada 2018 lalu, Alif sempat pula mendapatkan perawatan di RS Restu Ibu Balikpapan selama tiga hari karena tubuhnya kejang.

Yuliawati menuturkan, Alif sempat menolak dan muntah ketika diberikan bubur. Kedua bayinya pun belum mendapatkan vaksin campak dan rubella. Diketahui berat tubuh Alif kini hanya 3,8 kilogram. Sedangkan saudara kembarnya Avatar seberat 5,05 kilogram. Padahal, berat Alif pada Januari lalu sempat mencapai 5 kilogram. Karena Yuliawati tak memberikan susu, beratnya kembali menyusut.

“Berat 3,8 kilogram itu sama kaya bayi tiga bulan. Jadi masih jauh dari kata normal. Memang tidak bisa cepat, mesti berproses biar bisa naik. Biar bobot Alif bisa naik sampai 7–8 kilogram, sesuai standar pemberian susu mestinya 35 cc susu per tiga jam. Hanya susu, mestinya setelah beratnya 7 kilogram baru diberi makan-makanan pendamping,” ujar Novia Dwi Anggraeni, ahli gizi di RSUD Beriman.

Ketika Avatar dan Alif dijumpai di Ruang Bangkirai 12, Lantai II, RSUD Beriman, awak media sempat mengobrol sekilas dengan Yuliawati. Avatar dan Alif tampak tergolek di pembaringan, tengah asyik mengisap susu yang diberikan suster.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan, Balerina mengungkapkan, pihaknya terus memantau kondisi sang bayi kembar. Sebelum dirujuk ke RSUD Beriman, dia juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial Balikpapan untuk proses pendataan BPJS Kesehatan. Selain faktor ekonomi, tutur dia, Yuliawati mesti proaktif dalam memeriksakan kondisi sang anak ke puskesmas. Agar kasus kekurangan gizi ini dapat dicegah.

“Sedang proses pembuatan BPJS Kesehatan, yang nantinya diperuntukkan keluarga tidak mampu dan dana ditanggung pemda (pemerintah daerah). Ya, nanti setelah keluar dari rumah sakit, pihak puskesmas akan memberikan bantuan makanan tambahan dan peninjauan berkala,” tuturnya. (lil/rom/k16/kpg)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button