Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]
Dahlan Iskan

Hu

Di sini prestasi Hu Huifei menonjol. Pegunungan ia hijaukan. Sistem air ia perbaiki. Pencemaran ia atasi.
Saat meninjau Lishui Presiden Xi Jinping sangat terkesan. Terutama dengan pepatah yang menyertai program utama daerah itu: ‘Gunung yang hijau dan air yang bersih adalah tambang emas yang sebenarnya’.

Hu Huifeng lantas mendapat promosi. Menjadi bupati Jiaxing. Masih di provinsi yang sama. Hanya wilayahnya lebih strategis. Antara Shanghai dan Hangzhou.

Begitu penting Kabupaten ini. Terutama ketika Shanghai telah penuh dengan industri. Pengembangannya meluas ke Jiaxing.

Di sini bupati Hu Huifeng juga mengutamakan pembangunan lingkungan hidup. Saya ingat sekali teman saya. Yang membangun pabrik kopi di Jiaxing. “Ampun deh njlimetnya persyaratan lingkungan hidupnya,” ujar Sudomo, bos besar Kapal Api. “Padahal apalah limbah pabrik kopi ini. Bahan utamanya kan organik,” tambahnya.

Itu beda sekali dengan yang terjadi di provinsi Shaanxi. Di wilayah barat laut Tiongkok.

Semangat membangun ekonominya tidak memperhitungkan lingkungan. Sampai hutan taman nasional pun dijarah. Padahal pegunungan di selatan kota Xi’an itu harus dicadangkan untuk lingkungan.

Di situ justru dibangun villa. Memang menggiurkan. Secara komersial. Alamnya indah. Di atas bukit. Hanya 60 Km di selatan kota besar Xi’an. Kota yang begitu bersejarah. Pusat ibukota nya dinasti Tang. Kota transit utama jalur sutra. Tempat lahirnya kosa kata ‘dongxi’ (东西). Yang arti harfiahnya ‘timur-barat’. Namun memiliki arti yang sangat beda: ‘barang’.

Sebanyak 1.200 villa dibangun di lereng gunung ini: pegunungan Qinling. Satu villa seharga 15 juta renminbi. Sekitar 30 miliar rupiah.

Hutan villa ini nasibnya sangat tidak baik. Terutama setelah Xi Jinping melancarkan dua jurus utama: anti korupsi dan anti perusakan lingkungan hidup.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Comment

Back to top button