Opini

Di Negara Ini, Orang Tua Bisa Cuti Tiga Tahun Urus Anak dan Tetap Digaji

Di Estonia, setiap orang tua bisa libur bekerja untuk mengurus anak selama tiga tahun penuh. Selama itu, mereka juga tetap digaji. MUNIROH, warga Surabaya yang kini bermukim di Estonia, menyaksikan keasyikan tersebut.

SUATU pagi di Februari, seorang pria terlihat mendorong stroller dengan semangat. Dia sedang mengajak sang putra jalan-jalan mengelilingi Kuressaare Castle di Saaremaa, Estonia.

Laki-laki tersebut adalah Ronald Liive. Dia adalah seorang stay at home dad alias bapak rumah tangga. Ya, di Estonia ternyata bukan hanya para ibu yang mengurus rumah tangga.

Itulah yang membuat saya cukup terkesan ketika tinggal di Estonia sejak September tahun lalu. Saat ini saya merantau menemani suami, Teguh Putranto, menjalani studi doktoral di Estonian Maritime Academy, Tallinn University of Technology.

Ketika sampai di negara yang beribu kota di Tallinn tersebut, kami terkesan lantaran setiap orang tua memiliki hak cuti yang disebut parental leave. Di Estonia, orang tua bisa cuti kerja sampai anak berusia 3 tahun. Impian banget, ya?

Agar lebih yakin, saya bertanya kepada beberapa orang. Salah satunya, Ronald. Dia menyebut telah cuti selama 15 bulan ini untuk mengurus sang putra, Ian. Selama itu, dia tetap digaji. ’’Saya mendapatkan gaji dengan jumlah yang sama seperti saat masih bekerja. Sekitar EUR 1.500 per bulan,’’ ujarnya.

Menurut Ronald, selama cuti tiga tahun, negara membayar 1,5 tahun. Setelah itu, orang tua akan mendapatkan tunjangan sosial seperti asuransi kesehatan gratis.

Ronald adalah seorang di antara sekitar 10 persen stay at home dad di Estonia. Dia mengambil parental leave, sedangkan sang istri kembali bekerja sebagai perawat. Memang, hanya seorang yang dapat mengambil cuti penuh. Baik ayah ataupun ibu. Sebenarnya, bisa juga bergantian.

’’Jika mau, bisa gantian setiap bulan. Tapi, itu berarti orang tua harus punya atasan yang memperbolehkan hal tersebut,’’ katanya.

Ronald menyatakan, para orang tua juga tidak perlu khawatir kehilangan pekerjaan. Negara menjamin posisi sebelumnya akan tetap ada sampai parental leave selesai. Jadi, bisa langsung balik kerja setelah cuti. Dia menambahkan, cuti orang tua diberikan kepada setiap anak yang dilahirkan. Kalau dua anak, total parental leave mencapai enam tahun. Begitu seterusnya.

Karena itu, saya bertanya kepada rekan kerja suami yang memiliki dua anak. Yakni, Maris Pints. Perempuan yang bekerja sebagai Academic Development Officer tersebut dua kali mengambil parental leave. Tepatnya pada 2011–2014 dan 2015–2018 lalu. ’’Aku mengambil cuti agar bisa bersama kedua anakku; Frida, 7 tahun, dan Moorits, 4 tahun,’’ tuturnya.

Nah, cuti dalam waktu lama tidak membuat Maris mati gaya. Setiap hari dia mengajak jalan anaknya dengan jarak tempuh 10–20 kilometer. Makanya, di Estonia bakal mudah menemukan orang tua yang mengajak bayinya jalan dengan menggunakan stroller atau baby carrier. Maris juga mengikuti baby school yang kegiatannya menari, bernyanyi, dan berenang.

Menariknya, kalau ibu yang mengambil parental leave, ayah juga tetap dapat cuti. Ayah berhak libur sepuluh hari kerja ketika anak lahir. Contohnya, supervisor suami saya di kampus yang baru saja memiliki anak kedua pada Januari lalu. Ketika sang anak lahir, si profesor libur dua minggu. Kabarnya, mulai Januari 2020 mendatang, para bapak bisa cuti sebulan penuh.

Sebenarnya, ada enam jenis cuti lainnya bagi orang tua di Estonia selain parental leave. Selama cuti itu, negara akan memberikan tunjangan. Misalnya, cuti hamil 140 hari.

Ada lagi cuti pengasuhan anak atau child care leave. Setiap tahun, ibu atau ayah memiliki hak untuk mengambil cuti selama enam hari kerja bagi yang memiliki anak di bawah 3 tahun atau tiga anak di bawah 14 tahun. Kalau punya anak satu atau dua di bawah 14 tahun, cutinya tiga hari.

’’Beberapa waktu lalu, saya mengambil child care leave selama tiga hari. Saya dapat EUR 180,’’ ujar Dini Ratsepso, seorang warga Indonesia yang tinggal di Estonia.

Selain itu, Estonia sangat memperhatikan kesejahteraan anak. Pertama, biaya melahirkan gratis. Setelah itu, ada tunjangan melahirkan EUR 320 per anak. Kelahiran kembar tiga atau lebih mendapat EUR 1.000 per setiap anak yang dilahirkan.

Ada lagi tunjangan bulanan. Yang itu kami rasakan sendiri. Putra kami, Muhammad Rayhan Arthursyah, mendapatkan tunjangan bulanan sekitar EUR 90.

Berdasar informasi dari Kementerian Sosial, allowance diberikan sejak anak lahir hingga usia 19 tahun. Semakin banyak jumlah anak, tunjangan kian besar. Di sini, asuransi kesehatan anak juga dibayar negara alias gratis. Termasuk anak kami.

Dengan sistem seperti itu, ada banyak manfaat yang dirasakan para orang tua di Estonia. Mereka mengaku bisa terus melihat tumbuh kembang sang anak dan memiliki quality time bersama keluarga. Anak pun tumbuh bahagia. Dengan begitu, mereka lebih termotivasi di masa depan. Buktinya? Estonia kini menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Berdasar survei internasional tiga tahunan, Programme for International Student Assessment (PISA) terbaru pada 2015, Estonia menempati ranking ketiga terbaik di dunia dalam keseluruhan bidang science, reading, dan mathematics. Satu-satunya negara Eropa yang masuk tiga besar.

Indonesia berada di ranking 64 di antara 72 negara peserta. Tingkat kesejahteraan siswa juga besar seperti kepuasan hidup tinggi. Siswa juga tidak khawatir dengan ujian dan tugas sulit. Hasil PISA teranyar akan dipublikasikan pada Desember 2019.

Nah, harapan para emak-emak seperti saya, semoga tiga bulan cuti di Indonesia bisa menjadi tiga tahun seperti di Estonia, hehe. Head aega (sampai jumpa lagi)! (jpg)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button