Nasional

Lion Air Group Sempat Ganti Pesawat di Makassar

JAKARTA – Sudah tiga hari 10 pesawat Boeing 737 MAX 8 dilakukan temporary grounded. Baik Lion Air maupun Garuda Indonesia kemarin (12/3) menyatakan tidak ada gangguan dalam menejemen pesawat. Di sisi lain, Direktoran Jendral Perhubungan Udara berkirim surat kepada pemerintah Etiopia untuk menawarkan bantuan investigasi Boeing 737 MAX 8.

Pesawat Batik Air dengan nomor PK-LQK kemarin harusnya terbang ke Jeddah mengantarkan 150-an jamaah umrah yang berangkat dari Makasar. Namun pesawat B737 MAX 8 itu tidak bisa terbang lantaran aturan temporary grounded. Rute pasawat JT81 tersebut adalah Makassar – Trivandrum (India) – Medinah – Jeddah – Trivandrum – Makassar. ”Memang ada rotasi pesawat,” ujar Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro kemarin.

Danang menceritakan pada Selasa (12/3) menejemen Lion Air Group telah menjadwalkan pesawat tersebut berangkat dari Makasar. Namun pada hari yang sama, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengeluarkan perintah agar pesawat jenis B737 MAX 8 dilakukan temporary grounded. Ditjen Hubud akan melakukan inspeksi pada pesawat jenis itu karena kecelakaan di Etiopia Minggu lalu (10/3). Pesawat tersebut akhirnya digantikan oleh Airbus 330-300 yang terbang ke Jedah kemarin pukul 15.00.

Lion Air Group merupakan maskapai yang memiliki B737 MAX 8 terbanyak di Indonesia. Jumlahnya mencapai 10 pesawat. Meski demikian, menejemen maskapai tersebut menyatakan tidak ada gangguan paska aturan temporary grounded. Managing Director Lion Group Daniel Putut Kuncoro Adi saat ditemui di Kantor Kemenhub kemarin menyatakan bahwa bulan ini merupakan saat low season. Artinya tidak ada lonjakan jumlah penumpan. ”Tidak banyak berpengaruh,” ujarnya.

Menurutnya sudah ada tiga pesawat milik Lion Air Group yang diperiksa oleh tim Ditjen Hubud. Dari tiga burung besi tersebut diperiksa software dan perlatan di pesawat.

”Kecelakaan di Etiopia membuat makin banyak pertanyaan. Penundaan pembelian B737 MAX 8 dilakukan hingga investigasi penyebab kecelakaan diketahui,” kata Daniel. Sejak kecelakaan PK-LQP dari Jakarta ke Pangkalpinang, Daniel mengatakan bahwa Lion Air Group mulai berhati-hati. Lalu apakah Lion Air Group akan menuntut dispensasi kepada Boeing? Daniel mengungkapkan bahwa perusahaannya masih menunggu apa yang akan dilakukan perusahaan pesawat milik AS itu.

Direktur Teknik Garuda Indonesia I Wayan Susena saat ditemui pada saat yang sama mengungkapkan tidak ada gangguan dalam melayani penumpang. Menurutnya, Garuda Indonesia memiliki pesawat yang bisa digunakan untuk menggantikan B737 MAX 8 selama dikandangkan. ”Ada pesawat 1 standby,” tuturnya.

Pengamat penerbangan Arista Atmadjati menganggap bahwa safety issue yang menimpa Boeing 737 MAX 8 berpotensi membuat maskapai yang sedang memesan produk tersebut menunda delivery-nya. Termasuk Garuda Indonesia dan Lion Air yang saat ini masih dalam masa pemesanan unit tersebut. ”Bisa saja maskapai memutuskan menunda atau bahkan mengcancel pemesanan. Resikonya mungkin hanya bayar pinalti,” ujar Arista.

Menurut Arista, dalam satu line up varian produk pesawat, biasanya memang ada beberapa seri yang memiliki sejumlah masalah dan harus ditindaklanjuti produsen. “Kalau maskapai masih percaya dengan varian atau seri lain juga bisa geser pesanan,” tambahnya.

Sementara itu, Pengamat Penerbangan Alvin Lie berpendapat bahwa pembatalan pesanan pesawat merupakan ranah business to business (b to b) yang bergantung pada kesepakatan awal antara maskapai dan produsen. “Biasanya akan ada negosiasi dulu. Tergantung dari kemauan maskapai. Tapi kalau regulator atau pemerintah yang melarang rasanya saya belum pernah dengar,” ujarnya.

Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti saat ditemui di kantornya mengungkapkan temporary grounded tersebut agar ada inspeksi masing-masing pesawat. Meski pasca kecelakaan Lion Air di Perairan Tanjung Karawang, tim Ditjen Hubud sudah melakukan inspeksi. ”Biar tambah yakin. Ini sebagai wujud pemerintah sangat konsisten,” ucapnya.

Selain inspeksi, dia juga telah bersurat ke pemerintah Etiopia. Surat yang dikirimkan kemarin siang itu berisi ucapan belasungkawa. Selain itu juga menawarkan bantuan tim insvestigator dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). ”Namun belum ada jawaban,” kata Polana.

Menurut Polana, Ditjen Hubud juga melakuakn komunikasi dengan The Federal Aviation Administration (FAA) of the United States. Mulanya FAA mengirimkan surat kepada ditjen perhubungan udara di seluruh dunia agar melakukan berbagai tindakan untuk menyikapi kecelakaan B737 MAX 8 di Etiopia. Salah satu tindakan yang dianjurkan adalah inspeksi. ”FAA juga minta operator agar melakukan inspeksi,” paparnya. (agf/lyn/jpg)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button