Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]
Dahlan Iskan

Independen

Saya ke Solo Kamis lalu. Berhadapan dengan milenial Islam. Yang lagi sekolah di SMA Nur Hidayah. Mereka mengadakan acara NHVagansa. Untuk ke delapan kalinya.

Ini bukan sekolah milik Muhammadiyah. Bukan pula milik NU. Pokoknya tidak bernaung di suatu organisasi Islam.

Saya menamakannya sekolah Islam independen. Sekolah seperti ini kian banyak jumlahnya. Kian tinggi mutunya.

Dan bukan main larisnya.

SMA Nur Hidayah ini misalnya. Tiap jenjang memiliki delapan kelas. Kelas 1 A sampai H. Padahal, sekolah jenis ini bukan main mahalnya.

Pasti tidak mudah mengelolanya. Pasti banyak juga kecaman. Saya pernah mendirikan sekolah jenis itu. Di pesantren keluarga kami. Bukan main ribetnya. Hampir saja keluarga besar kami pecah. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Yang kontra itu benar juga: bikin sekolah Islam kok mahal. Gurunya pun di gaji besar-besar. Di mana nilai ibadahnya?

Akhirnya kami kompromi. Sekolah mahal jalan terus. Di Magetan. Sekolah gratis juga dibuat. Bagi yang ingin mengabdi dan ibadah.

Anehnya, dua-duanya maju. Alhamdulillah.

SMA Nur Hidayah di Solo ini bagus, mahal, maju. Entahlah. Maju karena mahal atau mahal karena maju.

Yang jelas pengelolanya memang istimewa. Mula-mula bikin SD. Maju. Bikin SMP. Maju. Bikin SMA maju.

Padahal lokasinya tidak jauh dari SMA Assalam. Yang milik keluarga pengusaha besar Solo: penerbit buku Tiga Serangkai. Yang mutunya juga sangat tinggi. Dan fasilitas sekolahnya seperti kampus universitas di negara barat.

Kini begitu banyak sekolah Islam independen yang seperti itu. Mereka pun berkumpul dalam satu wadah: Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Organisasi ini sangat longgar. Anggotanya hanya perlu taat pada satu hal: harus mau dievaluasi kurikulumnya.

1 2 3Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Comment

Back to top button