Anda tidak bisa menyalin berita ini. Info lebih lanjut, hubungi admin di [email protected]
Nasional

Tak Miliki E-KTP, Empat Juta Warga Terancam Tak Nyoblos

JAKARTA – Masa pemungutan suara Pemilu 2019 tinggal 32 hari lagi. Sejumlah permasalahan perlindungan hak pilih warga negara belum dituntaskan. Salah satu di antaranya, masih banyak calon pemilih yang belum melakukan perekaman e-KTP.

Permasalahan itu menjadi perhatian dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi II DPR dengan KPU, Bawslu, serta Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri pada Rabu (13/3).

Ditjen Dukcapil membeberkan, 4.231.823 warga (2,2 persen) belum melakukan perekaman e-KTP. Padahal, syarat utama untuk mencoblos pada 17 April nanti ialah memiliki e-KTP. Itu merupakan bukti kewarganegaraannya ketika hendak mencoblos di TPS.

Sekalipun tidak masuk daftar pemilih tetap (DPT), warga masih bisa menggunakan hak konstitusionalnya dengan menunjukkan fisik e-KTP yang dimiliki. Warga tersebut nanti masuk ke daftar pemilih khusus (DPK) dan berhak mencoblos di TPS sesuai dengan domisili pada menit-menit terakhir. Mereka bakal diberi surat suara cadangan yang berjumlah 2 persen dari total surat suara di TPS.

Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, pihaknya telah mendatangi rumah dan pusat aktivitas warga untuk melakukan perekaman e-KTP. Termasuk mengunjungi beberapa kawasan terpencil. ’’Kami sudah melakukan jemput bola secara optimal sampai ke pulau-pulau terluar. Ke pegunungan juga sudah kami lakukan,’’ ucapnya.

Namun, lanjut dia, upaya perekaman itu tidak sepenuhnya terlaksana jika warga tidak berniat memenuhi haknya sebagai warga negara. Dia berharap, warga bisa proaktif dalam melakukan perekaman e-KTP dengan mengunjungi dinas dukcapil di kabupetan/kota sesuai dengan domisilinya. ’’Karena apa, ini menjadi faktor penting untuk bisa melaksanakan pencoblosan pada 17 April nanti,’’ beber pria kelahiran Sleman itu.

Zudan mengatakan, setengah dari jumlah 4.231.823 warga yang belum melakukan perekaman e-KTP adalah penduduk asli Papua dan Papua Barat. Dua kawasan tersebut memang paling banyak belum melakukan perekaman. Sedangkan di daerah lain, kebanyakan sudah melakukan perekaman. ’’Kalau melihat partisipasi masyarakat yang 4 juta itu, saya tidak optimistis. Sebab, setiap jemput bola itu hanya sedikit yang ikut perekaman,’’ terang Zudan.

1 2 3Laman berikutnya
Tags

Related Articles

Comment

Back to top button