Internasional

Inggris Bimbang soal Brexit

LONDON – Seperti seisi kapal Titanic meminta gunung es minggir. Begitulah cemoohan dari wakil kepala utusan Uni Eropa terkait Brexit setelah pemungutan suara di parlemen Inggris Rabu lalu (13/3). Menurut beberapa tokoh organisasi regional itu, penolakan terhadap opsi no-deal Brexit (keluar tanpa perjanjian) tak masuk akal.

Hal itu ditegaskan Michel Barnier. Ketua negosiator Uni Eropa tersebut enggan mengiyakan permintaan Inggris untuk memperpanjang tenggat. Itu akan mubazir jika tensi politik Istana Westminster masih bertahan. ’’Apa lagi yang mau didiskusikan. Kita sudah punya perjanjiannya,’’ ujar Barnier dilansir The Guardian.

Beruntung, tak semua anggota Uni Eropa berpendapat sama. Presiden Dewan Eropa Donald Tusk menegaskan bakal merayu negara anggota agar bisa menyetujui perpanjangan tenggat. Dia merasa tak keberatan jika Inggris membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memikirkan strategi terkait Brexit.

Memang, parlemen sudah tegas menolak proposal Malthouse Compromise yang fokus untuk mengatur Inggris setelah Brexit berlaku tanpa kesepakatan. Pebisnis ikut girang dengan keputusan itu. Kegembiraan tersebut tergambar dari nilai tukar pound sterling yang meroket.

Namun, ’’adu jotos’’ di lembaga legislatif belum berhasil. Kemarin malam seharusnya voting ketiga tentang proposal perpanjangan tenggat dihelat. ’’Sudah jelas bahwa majelis rendah harus mencapai konsensus,’’ ujar Menteri Keuangan Inggris Philip Hammond dilansir Reuters.

Politisi pro-Eropa putus asa untuk mencegah Brexit keras (tanpa kesepakatan) terjadi. Tanpa penundaan deadline yang disetujui Eropa, Inggris otomatis keluar Eropa tanpa ikatan apa pun. Eropa tak keberatan mengulur waktu asal Inggris punya sikap yang tegas soal opsi yang dipilih.

Saat ini kabinet Perdana Menteri Inggris Theresa May menawarkan rencana klise. Dia kembali meminta parlemen menyetujui kesepakatannya pada voting pekan depan (20/3). ’’Kami lihat sudah banyak kolega yang luluh. Sebab, pilihannya tinggal menyetujui kesepakatan awal atau Brexit keras,’’ kata Hammond.

Pada 20 Maret nanti, parlemen diberi beberapa pilihan. Menyetujui proposal May dan menunda selama dua bulan. Pilihan lain adalah mengulang negosiasi dengan penundaan bertahun-tahun.

Di tengah gonjang-ganjing itu, pemerintah Inggris terus berusaha meyakinkan dunia bahwa mereka tak akan tenggelam seperti Titanic. Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik mengutarakan bahwa semangat Inggris tak akan mengendur. ’’Diskusi yang terjadi saat ini memang alot. Tapi, tak ada yang berubah dalam negara kami,’’ ujarnya saat berkunjung ke kantor Jawa Pos kemarin (14/3).

Dia menjelaskan bahwa kaki-kaki Britania Raya untuk menggerakkan roda ekonomi masih kuat. Mulai sumber dayanya yang pasti terdidik dan inovatif sampai industrinya yang sangat kreatif. ’’Dari 100 universitas terbaik dunia, 18 ada di Inggris. Lulusan PhD per seribu jiwa di Inggris merupakan yang terbanyak di dunia,’’ tegasnya.

Suami Rachel Malik itu menambahkan, pemerintah Inggris pun terus bekerja agar perdagangan dengan negara-negara sahabat tak terputus. Contohnya, penandatanganan kerja sama sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) dengan pemerintah Indonesia Maret ini. Dengan begitu, impor kayu dari Indonesia tak akan terganggu apa pun keputusan parlemen soal Brexit.

’’Sebelum referendum, kami fokus bekerja sama dengan Indonesia. Setelah referendum, kami semakin lari kencang,’’ ucapnya. (bil/c17/dos/jpg)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button