Nasional

Astaga, Kecurangan UNBK Lagi!

JAKARTA – Pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) jenjang SMA kembali diwarnai kecurangan kemarin. Foto-foto soal ujian mata pelajaran biologi tersiar di grup aplikasi percakapan Whats Apps. Meski begitu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih belum mengambil tindakan tegas.

Berdasarkan pengamatan Jawa Pos, grup bernama ”Biologi” itu memiliki 26 anggota di dalamnya. Dengan jumlah anggota yang lebih dibanding kasus kecurangan mapel matematika Selasa pekan lalu (2/4), grup obrolan tersebut terkesan lebih private.

Nah, oknum dalam grup tersebut memotret soal matematika. Jepretan itu lantas diunggah pukul 07.02. ”Bantu dong,” tulis oknum tersebut kemudian. Sekejap, anggota lainnya merespon foto soal tersebut dengan memberikan jawaban. Mulai sejak itu puluhan soal ujian tersebar dalam grup tersebut.

Padahal, jadwal sesi pertama mapel pilihan jurusan itu baru dimulai pukul 07.30. Tak ayal, status si pengunggah itu menimbulkan tanda tanya. Apakah dia siswa, guru, pengawas, atau seorang teknisi?

Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi menduga, oknum yang mengunggah foto soal berada di Indonesia bagian tengah atau timur. Yang memiliki selisih waktu lebih cepat. ”Jika kemungkinan itu benar, artinya itu kecurangan yang dilakukan siswa,” kata Bambang.

BSNP langsung melakukan koordinasi dengan Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) dan Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemendikbud untuk melacak dan mengidentifikasi oknum tersebut melalui sistem digital. ”Aplikasi itu sekedar media berbagi informasi. Tapi malah disalahgunakan. Esensinya ini ada pada mentalitas peserta UN dan task commitment pengawas ruang ujian,” ucap Bambang kesal. Ketentuan sanksi mengacu pada prosedur operasional standar (POS) BSNP.

Dalam Bab XIV POS BSNP tertulis, bagi siswa yang mebocorkan soal saat ujian nasional sedang berlangsung, dianggap melakukan pelanggaran berat. Ancamannya mendapat nilai 0 untuk mata pelajaran terkait.

Kepala Puspendik Moch Abduh menuturkan, sudah menelusuri jejak digital laporan itu. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan tegas yang dilakukan Kemendikbud untuk memberikan efek jera. Apakah harus menunggu hingga UN selesai baru ditindak? Menurut Abduh, pihaknya belum bisa melakukan tindakan apapun. Sebab, proses investigasi masih berlangsung. ”Nanti menunggu hasil investigasi Itjen,” ujar pria asal Sidoarjo itu.

Sementara itu, inisiator Semua Murid Semua Guru Najelaa Shihab menilai kecurangan terjadi karena sebagian besar murid berfikir bagaimana caranya mendapatkan nilai setinggi-tingginya di UN. Meski, saat ini sudah tidak menjadi faktor utama penentu kelulusan.

”Masih dianggap bahwa ini ujian yang menakutkan perlu ada istigosah dan lain sebagainya. Jadi paradigma ini harus diubah,” jelas dia. Jika tidak ada perubahan, tujuan akhir pendidikan nasional hanya nilai ujian. Bukan mencetak anak-anak yang berkarakter dan miliki integritas.

Bagi Najelaa, kejadian tersebut merupakan sebuah alarm. Jangan-jangan sistem pendidikan Indonesia masih masalah. Tak ayal, banyak siswa yang mencari jalan pintas demi meraih nilai ujian yang tinggi. Padahal, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh nilai. Malah itu faktor penentu paling rendah.

”Kalau nilainya tinggi tapi karakternya buruk dan tidak memiliki integritas, mau di sekolah atau nantinya bekerja di profesi apapun tidak akan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas,” urai perempuan 42 tahun itu.

Dibutuhkan revolusi mental penyelenggara pendidikan, terutama birokrat pendidikan dan guru agar mentalitas dan pemikiran siswa berubah. Yakni, dengan memberikan contoh teladan yang konkret. Meski, tidak secara tertulis di dalam kurikulum. Tapi, harus dilakukan.

Najelaa menyatakan, bahwa siswa yang curang itu justru yang membutuhkan pertolongan. Banyak sekali guru diajak diskusi olehnya malah dibiarkan melakukan kecurangan bahkan membantu. ”Justru mereka (guru, Red) itu ketakutan kalau nilai ujian siswanya rendah. Akibatnya, guru itu mendapat cap jelek atau memperburuk citra sekolah,” terang mantan dosen psikologi Universitas Indonesia itu. (han/wan/jpg)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button