Nasional

208 Pemantau Dunia Ikuti Pemilu Indonesia

JAKARTA – Tradisi election visit program (EVP) yang kembali dilakukan KPU menuai apresiasi. 208 peserta EVP antusias mengikuti kunjungan KPU ke sejumlah TPS di Jakarta. Mengamati proses pemungutan dan penghitungan suara. mengamati gairah dan antusias warga dalam menggunakan hak konstitusionalnya.

Para peserta dari penyelenggara pemilu negara sahabat, kedutaan besar, hingga NGO dan pemantau pemilu internasional. Dalam pantauan lapangan, mereka dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mengunjungi rutan dan lapas Cipinang melihat aktivitas pemungutan suara oleh para tahanan dan narapidana.

Sementara, kelompok lainnya diajak melihat proses pemungutan suara di kawasn padat penduduk di Tambora, Jakarta Barat. Sementara, pada sesi penghitungan suara, para peserta diajak ke TPS di Taman Suropati dan Lapangan Tenis Karang Asem Kuningan Jakarta.

Para peserta tampak antusias mempelajari detail aktivitas pemungutan dan penghitungan suara. salah satunya adalah Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan AO. Saat ditemui Jawa Pos kemarin, Gary tampak sedang menyaksikan proses hitung suara di TPS di Taman Suropati.

Menurut Gary, kegiatan tersebut adalah pengalaman yang besar bagi dia. Dia melihat betapa proses pemilihan berlangsung cepat dan efektif lewat pantauan di beberapa TPS. Gary juga sudah mendapatkan penjelasan bahwa pemilu kali ini melibatkan 193 juta pemilih. Juga kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari 17 ribu pulau. ’’Dengan lingkup sebesar itu, terlaksana pemilihan yang dilangsungkan dalam satu hari, itu adalah hal yang dahsyat dan luar biasa,’’ ucapnya.

Menurut dia, beberapa hal paling menarik dari pemilu Indonesia adalah cakupan pemilihan yang begitu besar, juga jumlah pemilih. ’’Fakta bahwa ini dilakukan dalam satu hari, di mana ada lima pemilihan, ini sangat rumit. Menurut saya ini salah satu pemilu paling rumit,’’ lanjutnya. Khususnya karena pemilu yang rumit itu terlaksana dalam satu hari.

Dia mencontohkan, di beberapa negara jumlah TPSnya mungkin hanya sekitar 3.000. Namun Indonesia memiliki 810 ribu TPS. Negara-negara lain memiliki cakupan pemilu yang kecil. Selain itu tingkat kerumitannya juga lebih rendah dibandingkan Indonesia. Tapi Indonesia justru mampu menunjukkan hal besar, dalam 20 tahun demokrasinya.

Karenanya, menurut dia negara-negara demokrasi lain yang berukuran lebih kecil bisa mempelajari apa yang dilakukan Indonesia. ’’Indonesia bisa menjadi inspirasi, karena pemilunya adalah yang terbesar di dunia yang dilaksanakan dalam satu hari,’’ tambahnya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan program Election Visit Program sudah menjadi salah satu program utama KPU dalam agenda kepemiluan. Dia menilai, kegiatan tersebut memiliki manfaat yang besar. Khususnya dalam memperkenalkan Demokrasi dan pemilu di Indonesia.

“Kita ingin menginfokan tentang Pemilu Indonesia terbuka dan bisa diakses siapa pun. Bukan hanya domestik tapi internasional,” ujarnya di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (17/4). Apalagi, peserta terdiri dari banyak negara di berbagai benua.

Harapannya, apa yang baik dalam Pemilu Indonesia bisa dipelajari dan menjadi contoh bagi negara-negara lain. Di sisi lain, KPU juga bisa mendapatkan timbal balik melalui catatan dan masukan yang disampaikan para peserta. (byu/far/jpg)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button