Feature

Ketika Semesta Avengers Memanggil, Nonton Jam 5 Pagi Bukan Halangan

Menghindari bocoran dari sana sini adalah motivasi mereka yang rela menonton Avengers: Endgame jam 5 pagi. Ada yang sampai cuti dengan alasan ”Avengers butuh bantuan”.

DEBORA S., Jakarta – MARIYAMA D.-BERTHA S., Surabaya

BAYANGKAN Anda bos sebuah perusahaan. Di hadapan Anda, di meja kerja, ada sebuah surat cuti dari seorang karyawan.

Dan, ketika dibaca, alasan pengajuan cuti si karyawan adalah…”Universe is calling. Avengers need back up. We are in Endgame!” (Semesta memanggil. Avengers butuh bantuan. Kita berada dalam Endgame). Kira-kira, Anda marah atau malah tertawa, Bos?

Sepanjang hari kemarin (25/4), mungkin tak hanya satu dua bos yang mengalami situasi demikian. Dan, bisa jadi pula ada pemakluman masal.

Sebab, ada banyak orang yang tak kuasa menampik ”panggilan semesta” kemarin: menonton penayangan perdana Avengers: Endgame, sekuel terakhir dalam rangkaian kisah para superhero ciptaan Marvel tersebut, di Indonesia.

Kemarin (24/4) dan hari ini (25/4) ada penyajian tayangan film tersebut selama hampir 24 jam. Dengan jam tayang paling awal pukul 05.00 dan paling akhir pukul 02.00.

”Ya, sebenarnya bisa langsung kerja sih habis nonton subuh kalau mau. Tapi, takut ngantuk,” ungkap Mentari Kusuma, karyawan sebuah perusahaan finance di Jakarta, yang menulis alasan ”panggilan semesta” di surat cuti tadi.

Musuh terbesar Avengers adalah Thanos. Sedangkan musuh terbesar penggemar Avengers adalah spoiler (bocoran cerita). Segala cara pun dilakukan demi menghindari bocoran sana sini. Nonton di jadwal penayangan paling awal adalah salah satunya.

Begitu kira-kira alasan Mentari mengapa sampai rela berangkat ke bioskop di jam yang tak berbeda jauh dengan jam berangkat mlijo alias tukang sayur ke pasar. ”Kalau tidak ada penayangan sepagi itu pun, saya mungkin akan tetap memilih jam tayang sekitar pukul 10.30 di bioskop lain,” kata perempuan 24 tahun itu saat ditemui Jawa Pos di Plaza Semanggi, Jakarta.

Untuk bisa datang ke bioskop pukul 04.00, Mentari harus mempercepat jam tidur semalam sebelumnya. Dari biasanya sekitar pukul 00.00 jadi pukul 21.00.

”Saya juga tidak banyak minum sebelum nonton supaya keseruan Endgame tidak diinterupsi keinginan ke toilet,” katanya.

Kalau Mentari sampai rela cuti, Asher Sayuti, penonton lain, justru memilih nonton pukul 05.00 agar tidak bertubrukan dengan jam kerja. ”Mau yang sore gak dapet, dan waktunya juga gak pas dengan jam kantor,” tutur Asher yang juga menonton di Plaza Semanggi.

Jadilah Asher datang mengenakan setelan kerja lengkap. Kemeja putih dan celana bahan kain abu-abu serta sepatu pantofel. Lepas menonton, dia pun tampak terburu-buru keluar studio. Mengejar jam masuk kantor.

Di Surabaya, demi bisa menonton Endgame pukul 05.00, Nugroho Tri Suryanto dan Austin Adikoesoema juga rela melakukan pengorbanan serupa Asher. Langsung berangkat kerja setelah nonton.

Hanya, bedanya, baju kerja tak langsung mereka kenakan saat ke bioskop. Dari atas ke bawah, mereka malah memakai seragam Avengers yang baru.

”Kita sengaja ikut preorder untuk seragam ini, sekitar dua mingguan,” terang Nugroho saat ditemui di Cinemaxx City of Tomorrow Surabaya.

Nugroho berharap, para penonton tayangan di jam paling awal, atau siapa saja yang sudah menonton, agar jangan sampai membocorkan isi film. ”Kasihan yang belum nonton,” katanya sebelum memasuki studio tempat Avengers: Endgame diputar.

Euforia di Surabaya secara umum serupa dengan Jakarta. Meski ditayangkan sangat pagi, tiket yang dijual di satu studio tersebut sold-out.

Penonton yang datang pagi itu pun beragam. Mulai mahasiswa, pekerja, hingga anak-anak. Ada yang masih rembes  (bahasa Suroboyoan untuk orang yang bangun pagi dan belum sempat mandi). Ada pula yang sudah rapi dengan kemeja dan sepatu pantofel tanda siap berangkat bekerja.

Tapi, ada juga yang datang dengan mengenakan sarung. Mungkin pulang Subuhan dari masjid langsung cusss ke bioskop.

Di Plaza Semanggi, film baru benar-benar dimulai sekitar pukul 05.05. Beberapa penonton tampak baru masuk ke studio di awal-awal film yang disutradarai Anthony dan Joe Russo itu berjalan. Sejumlah bangku pun kosong. Bisa jadi ada pemegang tiket yang membeli secara online lupa memasang alarm.

Durasi Avengers: Endgame panjang, sekitar tiga jam. Tapi, sepanjang pemutaran film itu, tidak banyak penonton yang beranjak ke toilet. Semua duduk tenang. Memperhatikan jalannya film dengan serius.

Selama itu pula, Firza Fakhriya harus nonton sembari agak mendongak. Maklum, dia mendapat kursi di deret A, pojok pula, di Plaza Semanggi.

Dia mengaku tadinya mau menonton yang pukul 09.00. Namun, begitu tahu ada yang lebih pagi, Firza langsung berubah pikiran. Demi agar tidak jadi korban spoiler. Dengan risiko itu tadi, dia duduk di deret terdepan.

”Tetap bisa nikmatin sih. Paling nanti mau nonton lagi,” lanjutnya.

Di sepanjang film, penonton kadang tertawa bareng di satu adegan. Ber-”oooh”-ria ketika melihat adegan trenyuh atau mengharukan. Tepuk tangan saat film berakhir dan memberikan tribute untuk para pemain yang sudah bekerja keras selama sebelas tahun terakhir.

Saking tenangnya, beberapa penonton pun mengaku tidak terasa sudah berlalu tiga jam. Rasanya seperti hanya sejentikan jari Thanos.

”Anak saya yang ajak nonton pagi-pagi gini,” ujar Prihantini, perempuan 51 tahun yang datang. Dia datang bersama keluarga dalam formasi lengkap: suami dan kedua anak.

Prihantini mengaku sebenarnya tidak begitu mengikuti cerita superhero Marvel. Dia lebih menggemari sang pesaing, DC Universe. Meski begitu, Prihantini secara pribadi juga penasaran dengan Endgame.

Sebab, dia menonton prekuelnya, Infinity War. Dan, ceritanya cukup membekas buat dia. ”Ingin tahu aja nanti akhirnya bagaimana, soalnya ceritanya menarik,” terang penggemar sosok Scarlet Witch alias Wanda Maximoff dalam Marvel Universe itu.

Lalu, bagaimana ending-nya? Eits, jangan! No spoiler! Bisa dibenci penggemar Avengers sedunia. Melebihi kebencian mereka kepada Thanos. (*/c10/ttg/jpg)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button