Bontang

Tak Sengaja Terjaring, Tujuh Ekor Penyu Dilepasliarkan

BONTANG – Setidaknya terdapat tujuh ekor penyu jenis sisik dilepasliarkan di perairan Bontang, Kamis (25/4/2019). Biota laut yang dilindungi tersebut diperoleh dari beberapa nelayan yang secara tidak sengaja terjaring saat melaut. Kemudian diperjualbelikan ke koperasi di Kota Taman.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang, Aji Erlinawati mengatakan pada dasarnya memperjualbelikan penyu tidak diperbolehkan. Dia menekankan agar nelayan tidak melakukan penangkapan secara liar. Sebab, terdapat sanksi yang siap menanti.

“Mereka (nelayan) jual ke koperasi yang peduli terhadap biota laut ini. Kemudian diserahkan kembali untuk dilepaskan,” katanya kepada bontangpost.id saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Limau.

Dia menjelaskan, sejauh ini belum ditemukan nelayan dengan secara sengaja menangkap dan memperjualbelikan penyu. Pihaknya pun akan terus melakukan pengawasan demi melindungi biota laut tersebut. Selain itu, edukasi dan sosialisasi ke nelayan perlu dilakukan.

“Tingkat kesadaran nelayan masih ada. Tidak menangkap secara liar. Yang jelas ada sanksi jika melakukan hal itu,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun PSDKP Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Akhmadon menyebutkan semua jenis penyu laut telah dimasukkan dalam appendix 1, yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang.

Penyu di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Bahkan menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem pelaku perdagangan.

“Penjual dan pembeli satwa yang dilindungi itu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta,” ucapnya.

Selain penyu, dalam kesempatan ini juga dilakukan pelepasliaran terhadap lima ekor ikan napoleon yang merupakan biota laut dilindungi. (mam)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button