BontangFeature

Serba-Serbi Hasil Rekapitulasi Suara Pileg DPRD Bontang (3-akhir): Tertua, Tapi Peduli Nasib Kaum Milenial

Meski berusia 52 tahun, tidak menyurutkan niatnya untuk maju pada Pileg, tahun ini. Sempat gagal dua kali di pesta demokrasi, dijadikan motivasi lebih. Tak disangka, berkat kegigihannya, kesuksesan pun diraih oleh Maming yang merupakan Caleg Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Dapil Bontang Selatan.

ADIEL KUNDHARA, Bontang

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Itulah ungkapan yang dilontarkan oleh Maming saat dinyatakan berhasil meraih satu kursi di Gedung DPRD Bontang. Karir perjuangan di bidang politiknya pun penuh liku-liku.

Berawal dari kegagalan di Pileg 1999. Saat itu, ia menjabat sebagai ketua umum Partai Persatuan Daerah (PPD). Maming menjelaskan di Pileg tersebut hanya sekadar memotivasi rekan-rekan caleg lainnya. Alhasil, perolehan suara pun tidak maksimal.

“Itu saya maju melalui Dapil Bontang Utara,” kata Maming.

Lima tahun berselang, peruntungan dicoba kembali. Kali ini, ia maju melalui Dapil Bontang Selatan. Dengan bendera partai yang berbeda. Meski jabatan terttinggi kembali disandangnya.

“Di 2004 saya memutuskan maju kembali lewat Partai Demokrasi Pembaruan (PDP). Tetapi gagal lagi, karena niat untuk duduk saat itu juga belum ada,” ucapnya.

Maming beranggapan karir politiknya itu ibarat bergelut di dunia seni. Disukai tetapi ujungnya belum bisa ditebak. Mei tahun lalu, pensiunan karyawan perusahaan tambang batubara ini memutuskan memilih bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.

“Saya masuk politik karena ingin mengabdi kepada masyarakat, agama, dan negara. Kalau di perusahaan swasta cakupannya terbatas untuk buffer zone saja. Padahal beberapa kelurahan wajib ditampung aspirasinya,” sebut dia.

PDI Perjuangan dipilihnya karena beridealis nasionalis dan sangat konsisten terhadap ruh partai. Sebelumnya, PDI Perjuangan bertindak sebagai partai oposisi selama 10 tahun, di periode 2004 hingga 2014.

“Karena konsistennya saya tertarik masuk partai tersebut. Meski sebelum penetapan calon legislatif, beberapa partai mengajak saya. Termasuk partai dengan nama besar,” terangnya.

Setelah memutuskan untuk maju ketiga kalinya, ia pun melakukan evaluasi. Salah satunya dengan beranggapan pentingnya kekuatan silaturahmi. Awalnya, kegiatan itu berangkat dari kalangan keluarga. Kemudian disusul ke rekan kerja dan tetangga.

Kegiatan seperti itu kerap dilakukan saat memakai seragam kerja. Mengingat jabatan suami dari Bahariah ini ialah Manajer External Relation PT Indominco Mandiri.

“Oktober lalu, saya mengunjungi rumah beberapa teman untuk bersilaturahmi,” kata ayah dari empat anak ini.

Ditambah dengan upaya pemasangan beberapa alat peraga kampanye (APK) di enam kelurahan. Maming menyadari jumlah APK yang terpasang tidak begitu banyak. Hanya berbekal sarana tersebut, kerabatnya mampu menularkan ajakan untuk memilih dia kepada masyarakat lain.

“Karyawan saya yang berada di Bontang Selatan saja berkisar 2.000 orang,” tuturnya.

Sebuah predikat melekat kepada diri Maming saat pemasangan APK. Pasalnya, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menyebut caleg pertama yang membayar pajak. Prinsip itu selaras dengan saat menjadi karyawan perusahaan swasta yakni taat kepada peraturan yang berlaku.

Berdasarkan hasil Pileg, Maming berhasil meraup 1.201 suara. Adapun kantong suara terbanyak didapatkan di Kelurahan Tanjung Laut dengan 409 suara. Urutan kedua ialah Kelurahan Berebas Tengah dengan 319 suara.

“Basis saya menyebar. Kalau Tanjung Laut itu karena beberapa TKS sekitar rumah, saya mendapat suara terbanyak. Sementara untuk Berebas Tengah karena saat melajang dulu, saya tinggal di sana,” paparnya.

Setelah duduk nantinya, sasaran pertama ialah memerhatikan nasib kaum milenial. Di bidang ketenagakerjaan. Menurutnya, generasi muda wajib dibekali keahlian berbasis industri. Sehingga, kemampuan itu dapat terserap langsung sesuai kebutuhan perusahaan.

“Kalau hanya pelatihan tidak ditopang dengan kebutuhan industri itu berakibat meningkatnya angka pengangguran,” kata Maming.

Ia menampik jika peluang masuk perusahaan bergantung pada figur yang membawa. Jika pelamar memiliki skill sesuai kebutuhan perusahaan pasti diterima. Karena hasil tesnya memang memadai untuk bidang pekerjaan itu.

“Siapapun yang bawa kalau tidak mempunyai keahlian tidak akan diterima. Karena itu berisiko,” kata ayah dari empat orang anak ini.

Dituturkan Maming, generasi muda menjadi ujung tombak keberlangsungan pembangunan negara. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk memberikan fasilitas terhadap kaum milenial.

“Yang tua akan ada waktunya untuk beristirahat. Jika sudah memiliki kemampuan berbasis industri, sudah pasti mengangkat ekonomi keluarganya. Artinya angka kemiskinan pun menurun,” pungkasnya. (***)

Sumber
Prokal
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button