Bontang

BUTUH PERHATIAN!!!! ODHA di Bontang Capai 241 Kasus

Ada Bayi yang Tertular HIV dari Orang Tua

BONTANG- Orang Dengan HIV/Aids di Bontang (ODHA) selama 11 tahun penderitanya mencapai 241 orang. Jumlah tersebut terhitung sejak tahun 2006 sampai 2017. Meski demikian banyak dari ODHA yang menghentikan program Anti Retriviral Terapi (ART) dikarenakan efek sampingnya. Hal tersebut terungkap dari data yang dimiliki Yayasan Spiritia Cabang Kaltim, yang membawahi KP Mahakam Plus.

Koordinator Pendukung Sebaya wilayah Bontang Yayasan Spiritia Kaltim Ahmad Humaidi Al Nadira mengatakan, jumlah sebanyak 241 orang merupakan perhitungan komulatif sejak 2006-2017.

Dari 241 itu, Dira–sapaannya menyatakan penderita nya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari kalangan ibu rumah tangga, balita, hingga para pekerja tetap. Yang membuatnya prihatin, munculnya kasus baru, yakni bayi yang baru dilahirkan ternyata setelah didiagnosa positif HIV. “Bayi tersebut  tertular dari orang tuanya,” terang Dira saat ditemui, Selasa (24/10) kemarin.

Sementara itu, capaian penanganannya pun belum mencapai 100 persen. Tetapi baru 70 persen saja. Sisanya yang 30 persen Dira mengaku masih akan mem-follow up.  Khusus yang 30 persen ini lanjut Dira, harus dikejar lantaran kebanyakan mereka tidak survive, artinya putus di tengah jalan. “Mereka putus asa dan tidak mau mengikuti program ART, karena rata-rata mereka tidak tahan dengan efek sampingnya, sebab obat ini efek sampingnya cukup tinggi,  sama seperti obat kanker. Padahal sebenarnya, bisa bertahan dengan keinginan mereka sendiri,” kata Dira.

Baca Juga:  Distan Periksa Kesehatan Hewan Kurban 

Untuk itu Dira mengimbau, untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap ODHA, semua pihak harus menepis diskriminasi dan stigma dengan cara lebih mengetahui apa itu ODHA, serta segala pengetahuan dan informasi yang tepat mengenai HIV dan Aids. “Karena sesungguhnya ketidakpahaman dan kurangnya pengetahuan inilah yang menyebabkan stigma itu masih tinggi, juga mitos-mitos buruk yang melekat pada ODHA,” pungkasnya. (mga)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close