Bontang

Pakai Terapi SEFT, Hilangkan Rasa Candu

Banyaknya anak-anak yang sudah kecanduan dengan zat berbahaya seperti lem dan miras oplosan, membuat Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Bontang berupaya menyembuhkan dengan terapi Spriritual Emotional Freedom Technique (SEFT).

SEFT, digadang-gadang sebagai terapi yang ampuh menghilangkan kecanduan menghisap lem, mabuk miras oplosan dan mabuk karena alkohol.

Terapis bernama Siti Rofiatun mengatakan, enam orang anak yang ditangani LK3 Bontang ini merupakan warga Kelurahan Berbas Pantai. Rofiatun melakukan terapi SEFT pada pertemuan pertama Selasa (31/10) malam lalu di Rumah Singgah. Hasil observasinya, semua anak merupakan anak-anak putus sekolah. Mereka juga merupakan perokok berat, bahkan dua anak mampu menghabiskan 10 batang rokok dalam sehari. Kelima anak tersebut sudah menjadi pecandu ngelem, tetapi satu diantaranya tidak ngelem hanya mabuk minuman keras (miras). “Keenam anak itu juga kecanduan miras oplosan seperti minuman berenergi dan alcohol,” jelas Rofiatun, Jumat (3/11) kemarin.

Akibat kecanduan ngelem, Rofiatun mengatakan keenamnya tidak nyaman saat tidur. Terlebih yang mengkonsumsi miras, pasien baru bisa tidur menjelang pagi. “Namun demikian, mereka masih menyadari bahwa ngelem dan aldo itu tidak enak. Tetapi, mereka senang dengan kebersamaannya,” ujarnya.

Nah, lanjut dia, ketika terapi SEFT sudah dilakukan terhadap kecanduan rokoknya, saat diminta untuk merokok lagi, semua anak merasakan pahit dan langsung meludah. Bahkan, ada dari mereka yang mau muntah. “Di hari pertama terapi sudah mulai banyak perubahan, selanjutnya agenda menghilangkan kecanduan ngelem dan aldo, karena terapi pertama baru menghilangkan candu rokok,” ungkap dia.

Terapi kedua pun dilakukan pada Kamis (2/11) lalu. Hasil dari terapi SEFT kedua untuk menghilangkan candu alkohol, Rofiatun menjelaskan sebelum terapi mereka sangat menikmati ketika diminta meminum minuman oplosan. Tetapi setelah diterapi mereka menjadi takut waktu minum bahkan hanya sedikit meminum mereka langsung merasa kepahitan dan lari ke kamar mandi untuk muntah. Sedangkan untuk kecanduan ngelemnya, seperti biasa awalnya diminta menghirup lem dan sangat menikmati. Namun, setelah di SEFT-ing dua putaran, mereka rata-rata menunjukkan mimic muka yang tidak enak. “Kata anak-anak baunya tidak enak dan ada yang merasa panas di dadanya sampai mereka menutup hidungnya,” beber dia.

Terapi ini belum selesai, karena Rofiatun menjadwalkan terapi ketiga untuk masalah mental blok-nya. Di mana perasaan tidak berharga dirinya, merasa terbuang, merasa tidak punya masa depan dan tidak percaya diri akan dihilangkan dan diganti dengan keyakinan yang positif tentang diri sendiri. Sehingga mereka ada kemauan berperilaku positif. “Kalau sekadar menghilangkan kecanduan, dua kali terapi sudah terlihat hasilnya, tetapi terapi yang terakhir ini untuk menumbuhkan keinginan melakukan hal positif. Bukan hanya keinginan, tetapi benar-benar bisa melakukan hal positif. Mohon doanya saja agar mereka bisa sembuh dan punya masa depan yang baik,” harapnya. (mga)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Baca Juga

Close
Back to top button