Bontang

Saat Ada Indikasi Depresi, Keluarga Harus Bantu Menyelesaikan

Bunuh diri adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya seringkali dikaitkan dengan gangguan jiwa.

Aksi bunuh diri yang dilakukan oleh pemuda berumur 14 tahun Kamis (23/11) lalu, mengundang keprihatinan pakar psikologi dari Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang, Laela Siddiqah. Ia mengatakan, jalan pintas kerap diambil karena tidak terpecahnya permasalahan yang dihadapi. Ditambah lagi dengan tekanan dari lingkungan seperti menyalahkan, tidak mempercayai, atau justru mengabaikan. “Seseorang yang melakukan bunuh diri biasanya bukan karena masalah yang sesaat dan sepele dalam waktu singkat,” kata Laela yang juga Founder Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang.

Tekanan yang besar acapkali membuat korban mengalami situasi depresif secara kejiwaannya. Situasi tersebut diperparah apabila korban memiliki sifat yang tidak mau terbuka dengan orang lain serta tak dapat mengontrol emosi.

“Karakter pribadi yang lemah akan kemampuan memecahkan masalah, mengelola emosinya, dan cenderung menyimpan semua persoalannya sendiri, menjadi rentan untuk menjadi depresi,” paparnya.

Dikatakannya, dibutuhkan pemahaman akan konsep diri dan nilai keimanan sehingga keputusan yang diambil tidak menyimpang. Bukan justru tindakan dari pemikiran pendek sehingga mengabaikan risiko sehubungan masa depan.

Diperlukan peran orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak dalam membentuk karakter dan kepribadian. Perlunya ruang untuk didengarkan, diperhatikan, dan dihargai guna membuat seseorang merasa berarti.

“Seringkali tidak adanya ruang untuk didengarkan membuat seseorang merasa tidak berarti. Saat ada indikasi anak yg mengalami depresi, maka semestinya lingkungan (keluarga, teman, sahabat, Red.) membantu menyelesaikan dengan baik,” ucapnya.

Ia memberikan tips bagi kaum muda yang memiliki masalah untuk tidak langsung melakukan tindakan secara spontan. Akan tetapi perlu dipikirkan terlebih dahulu apa saja yang dapat dilakuan dan risikonya. Barulah mengambil sebuah tindakan.

“Jangan emosi-aksi-pikir, tetapi emosi-pikir-aksi. Latih kemampuan menyelesaikan masalah dari hal-hal yang sederhana secara mandiri, sehingga terasah daya pikir kritis dan problem solvingnya,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang pemuda ditemukan tak bernyawa di dalam rumah kontrakannya Kamis (23/11) sore lalu. Diketahui,  pemuda berinial MIM (14) ini gantung diri di pintu kamar memakai sabuk bela diri. Saat ini, polisi masih mengumpulkan barang bukti dan keterangan para saksi.

Meski tragis, namun kejadian tersebut tak membuat gempar wilayah sekitar. Bahkan, para tetangga tak banyak yang mengetahui kejadian tersebut. Pasalnya, wilayah sekitar kontrakan korban dikenal sepi dan para tetangga jarang berada di rumah.  (*/ak)

 

 

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Baca Juga

Close
Back to top button