Bontang

Mangkrak, Bangunan Panti Sosial Terpadu Jadi Tempat Ngoteng dan Ngelem 

Tak terawat itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bangunan yang semula hendak dijadikan tempat panti sosial terpadu ini. Dikarenakan mangkrak, bangunan yang terletak di jalan Bete-Bete 2, Tanjung Laut ini disalahgunakan oleh oknum anak- anak di bawar umur untuk ngoteng dan ngelem.

Adiel Kundhara, BONTANG

Sekokohnya bangunan tanpa atap di atasnya, bila diterjang derasnya air hujan maka akan rapuh pula. Begitulah yang tersaji ketika melihat bangunan berukuran 40×20 meter ini.

Rencananya, bangunan ini akan dijadikan markas bagi anak-anak yang kurang beruntung mendapat keluarga utuh. Naasnya, sejak tahun 2015 telah ditinggalkan oleh kontraktor ketika bangunan yang dianggarkan Rp 5 miliar melalui APBD ini belum selesai secara sempurna.

“Ini terbengkalai sejak tahun 2015 karena kontraktor tidak sanggup melanjutkan, tetapi uangnya sudah masuk kas daerah kembali,” kata Ketua RT 02 Tanjung Laut, Sahabuddin.

Ilalang yang membelit dinding menambah kesan tak terawatnya bangunan ini. Hal itu diperparah dengan banyaknya sampah berserakan di setiap lantainya. Mulai dari sampah plastik yang terdapat sisa lem berwarna kuning, bungkus obat batuk, serta beberapa botol minuman ringan.

“Ya tempat ini dijadikan beberapa anak untuk ngelem dan ngoteng. Bahkan, ini baru karena sebelumnya belum ada,” tunjuk Sahabuddin ketika melihat puluhan bungkus obat batuk di salah satu tempat yang hendak dijadikan toilet.

Apabila penindakan tidak segera dilakukan, tempat yang semula penuh rasa sosial ini bisa dijadikan ajang maksiat. Di mana anak berlawanan jenis memanfaatkan sepinya situasi untuk melakukan hal yang senonoh. Biasanya, aktivitas dilakukan pada waktu siang hari setelah pukul 14.00 Wita serta malam hari di atas pukul 23.00 Wita.

“Mereka itu bukan hanya laki-laki saja tetapi ada perempuannya. Rata-rata mereka putus sekolah,” papar pria yang dulu bekerja di Dinas Sosial ini.

Melihat situasi ini, warga kerap melakukan patroli namun oknum anak tersebut pintar mencari celah. Alhasil, tidak ada satupun yang berhasil ditangkap ketika sedang berpesta minuman keras oplosan.

“Pernah saya lihat ketika sudah dekat mereka sudah lari. Kami kan tidak mungkin menjaga setiap waktu, karena ada aktivitas masing-masing,” ucapnya.

Menapaki lantai bangunan kondisinya lebih memprihatinkan. Beton bangunan hanya dibalut oleh rangkaian bambu.

Lantainya sudah berwarna hitam berpadu dengan lumut yang menempel di tiap sudutnya. Apabila hujan maka air akan turun ke lantai dasar.

“Kalau hujan bocor ini ke bawah airnya,” tuturnya.

Menyampaikan permasalahan ini ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yaitu Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos-P3M) serta DPRD sudah pernah dilakukan, akan tetapi hingga kini belum ada respon yang diterimanya. Ia berharap agar pembangunan ini dikerjakan kembali sehingga bangunan tidak akan rusak.  (***)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Back to top button