Kaltim

Sepakat Hilirisasi Industri Kaltim 

SAMARINDA – Mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim menjadi isu hangat yang terus digemakan para calon gubernur dan calon wakil gubernur yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018. Di antara solusi yang ditawarkan para paslon ialah hilirisasi industri.

Konsep ini pun senada dari paslon Andi Sofyan Hasdam dan Nusyirwan Ismail, Syaharie Jaang dan Awang Ferdian Hidayat, Isran Noor dan Hadi Mulyadi, serta Rusmadi dan Safaruddin. Keempat cagub dan cawagub tersebut searah ingin melepas ketergantungan Kaltim dari sektor pertambangan.

Melalui kegiatan Kaltim Summit III yang dihelat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim di Convention Hall Stadion Sempaja Samarinda, Kamis (15/2) kemarin, keempat paslon yang ikut menuangkan konsepnya dalam acara itu, bagai satu arah yakni kolektif mendorong hilirisasi industri.

Cagub Kaltim, Rusmadi misalnya menilai, tema percepatan transformasi ekonomi Kaltim yang dikupas dalam pertemuan itu merupakan momentum yang penting, ketika Kaltim mau bicara lima tahun ke depan dalam konteks untuk pembangunan jangka panjang.

Sebagai cagub, Rusmadi mengaku, saat dirinya masih menjabat Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltim, dirinya tidak pernah melewatkan bincang pembangunan tersebut sejak awal digalakkan. Menurut dia, banyak isu yang perlu mendapatkan  perhatian.

“Terutama  terkait transformasi ekonomi, kita enggak bisa main-main. Pemerintah perlu fokus membuat program. Supaya pembangunan yang akan dilakukan bisa tepat sasaran dan sesuai kebutuhan  masyarakat. Yang saya lihat, perlu ada keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” katanya.

Selain itu, dia melihat, potensi batu bara tidak sekedar untuk bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Melainkan juga bisa untuk proses hilirisasi. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah nantinya fokus menggalakkan program hilirisasi tersebut.

“Kita harus punya strategi jangka panjang, bahwa batu bara bukan sekedar batu bara, tetapi bisa diproses menjadi satu bahan yang disebut dimetil eter. Baik untuk gas, ataupun bisa untuk industri pelastik,” jelas Rusmadi.

Cagub Kaltim lainnya, Andi Sofyan Hasdam mengatakan, dua periode masa kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak sudah banyak membahas masalah transformasi ekonomi. Hanya saja tema tersebut dirasakan masih perlu diperbincangkan secara mendalam.

“Bicara transformasi memang tidak mudah. Ke depan kita harus lebih ketat. Contohnya, kalau ada investor yang ingin menanam sawit, silahkan. Tetapi izin itu harus ada kewajiban membangun pabrik-pabrik yang merupakan turunan crude palm oil (CPO),”  kata dia.

Menurutnya, dengan turunan CPO yang mencapai puluhan, harus sudah mulai dibuat dan dibangunkan pabriknya di Kaltim. Karena dia tidak ingin akibat perizinan tersebut hanya merusak lingkungan, sedangkan CPO dikelola di daerah lain, atau bahkan dikirim ke luar negeri.

“Tidak ada upaya serius selama ini. Karet contohnya, kenapa tidak ada pabrik ban di Kaltim. Belum rumput laut, tanaman obat, dan ikan. Semua itukan bisa dibuatkan hilirisasinya,” ucapnya.

Saat ini, Kaltim punya batu bara serta minyak dan  gas (migas). Saat harga jualnya mengalami penurunan, maka bisa dilihat, pertumbuhan ekonomi Kaltim minus. APBD provinsi hingga kabupaten/kota menjadi jungkir balik.

“Sekarang di mana-mana cerita defisit. Kaltim tidak mungkin tumbuh kalau tidak membangun melalui hilirisasi. Kalau berharap batu bara dan migas, ekonomi Kaltim tidak akan pernah menyentuh di atas angka lima persen,” tuturnya.

Menurut dia, agar hilirisasi di Kaltim bisa berjalan, maka perlu dibuatkan dewan industri. Melalui dewan industri, maka bisa dilibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah yang akan bekerja sama memikirkan persoalan tersebut.

“Kita lihat pembangunan Kipi Maloy, jangan sampai setelah dibangun malah tidak ada yang mau pake. Yang kita minta memakai itukan para pengusaha. Pengusaha harus kita ajak bicara,” katanya.

Ditambahkan Cawagub Kaltim Nusyirwan Ismail, keberadaan dewan industri untuk mendorong program hilirisasi. Selain itu, melalui cara itu, maka anak-anak Kaltim bisa disiapkan kualifikasi SDM sebagaimana dibutuhkan industri yang dikembangkan.

“Selama inikan hanya 35 persen tenaga kerja dari anak Kaltim yang cocok. Selebihnya tidak sesuai kualifikasi. Melalui Balai Latihan Kerja (BLK), training oleh perusahaan, makan akan disatukan di dewan industri,” jelasnya.

Seperti di Kota Bontang, saat ini sedang merencanakan pembangunan kilang minyak baru dan NPK Cluster. Kedua proyek tersebut nantinya  akan membutuhkan ribuan tenaga kerja. Pertanyaannya, mampukah Kaltim menjawab kebutuhan itu?.

“Inilah pentingnya BLK. Yang dibutuhkan industri tersebut nantinya adalah mereka yang siap kerja dan punya sertifikat. Kalau orang luar dari Kaltim yang punya keterampilan, sedangkan Kaltim tidak punya, tentu kita juga sulit melarangnya. Makanya SDM harus mulai disiapkan,” ujarnya.

Sementara Cagub Kaltim Syaharie Jaang menilai, bahwa transformasi dianggap sebagai lompatan dari sebuah perubahan. Bagaimanapun, transformasi penting untuk mewujudkan rencana strategis pembangunan Kaltim 2030 mendatang.

“Untuk mencapai visi itu, perlu diletakkan dasar perekonomian Kaltim. Kaltim tidak bisa lagi bertumpu pada ekonomi sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui,” ucapnya.

Kata dia, seperti halnya sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan pariwisata sudah harus diletakan di lima tahun ini. Termasuk hilirisasi industrinya. Supaya di tahun 2030 Kaltim sudah bisa menuai hasilnya. Seperti perkebunan kepala sawit, dalam waktu 5 tahun sudah bisa produksi dan dikomersilkan.

“Fokus saya nanti di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan pariwisata. Peningkatan pembiayaan di keempat sektor itu akan kami lakukan. Termasuk mendorong adanya pembangunan hilirisasi industri,” katanya.

Tantangan pembangunan di keempat sektor itu, yakni menmbangun stigma masyarakat dan investor. Karena pembangunan di sektor itu masih dianggap tidak terlalu menarik dan seksi. Selain itu, dibutuhkan pembiaayaan yang tidak sedikit nilainya.

“Instansi yang bersentuhan langsung dengan itu akan kita kuatkan perannya. Kalau percetakan sawah baik, sistem irigasinya pun baik, maka Kaltim bisa melakukan swasembada pangan. Selama inikan, beras banyak kita datangkan dari luar,” katanya.

Adapun Cawagub Kaltim Hadi Mulyadi memandang, ekonomi Kaltim memang harus beralih dari ekonomi konservatif, yang hanya mengandalkan sumber daya alam secara manual dan konvensional. “Cara itu harus dirubah ke hilirisasi industri. Ada puluhan turunan dari CPO, satupun belum dikerjakan di Kaltim. ini harus dirubah,” ucapnya.

Menurutnya, kebijakan tersebut sejatinya bukan dilakukan saat ini. Melainkan sudah harus dilaksanakan dari 5 tahun lalu. Saat ini kebijakan itu bisa dikatakan sudah telah. “Harusnya, para perencana pembangunan sudah melihat ada permasalahan terkait sumber daya alam,” katanya.

Sejak harga batu bara tampak mulai bergerak turun, begitupun dengan migas, seharusnya sudah mulai dibaca dan dikerjakan solusinya dari 5 tahun lalu. Akibatnya, laju pertumbuhan ekonomi Kaltim di tahun 2016 dan 2017 mengalami negatif.

“Ini kesalahan dalam perencanaan. Ke depan kita butuh gubernur yang berani merubah kebijakan secara diameteral. Pak Isran bisa melakukan itu,” ucapnya tegas.

Kata Hadi, pemerintah Kaltim ke depan perlu mendobrak pemerintah pusat, meminta pihak investor dan swasta untuk melakukan hilirisasi secara massif di Kaltim. Manfaat dari kebijakan itu akan menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara maksimal.

“Tingkat kemiskinan, pengangguran, laju pertumbuhan ekonomi yang negatif, bisa diselesaikan dengan hilirisasi. Yang lainnya adalah meningkatkan PAD dari pariwisata, PI (public interest) 10 persen dari Blok Mahakam harus dikelola dengan baik,” katanya. (drh)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Back to top button