Breaking News

Di Daerah Ini Gampang Temui Apotek Nakal 

SANGATTA – Praktik jual beli obat keras tanpa resep dokter bisa terjadi karena oknum apotek nakal. Dari hasil penelusuran sejumlah apotek memang menjual obat keras secara bebas.

Sangatta Post mencoba memulai mendatangi salah satu apotek di kawasan Jalan Yos Sudarso, Selasa (21/2) kemarin. Di sana wartawan mencoba bertanya tentang ketersediaan salah satu merek obat keras. Tanpa menanyakan ada atau tidak resep dokter, petugas tersebut mengatakan punya stok dan menanyakan jumlah yang ingin dibeli.

“Ada, mau beli berapa?,” kata salah satu petugas di apotek.

Setelah itu, wartawan juga mencoba menanyakan di apotek lainnya. Jawaban yang didapat pun sama, petugas di apotek itu juga tak menanyakan resep dokter. Namun tak semua apotek nakal. Pada percobaan ketiga, petugas di apotek tersebut ternyata menanyakan resep dokter. Namun Sangatta Post mencoba memancing dengan mengatakan hanya akan membeli obat tersebut sebanyak 4 butir. Namun petugas itu tak bergeming.

Apoteker yang tidak mau disebutkan namanya itu menjelaskan mengenai mekanisme pembelian obat keras. Menurutnya konsumen harus membawa resep dari dokter. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Kami memang menjual semua obat. Namun tidak semuanya dapat dibeli oleh masyarakat. Ada beberapa obat keras yang harus menggunakan catatan resep dari dokter,” ujarnya ditemui di salah satu Apotek yang juga di kawasan Jalan Yos Sudarso, Sangatta Utara.

Dia memaparkan masih banyak masyarakat yang ingin membeli obat tersebut tanpa resep. Bahkan tidak sedikit jumlah yang mereka minta. Namun dirinya enggan memberikan. “Banyak warga yang mau beli obat keras.

Terkadang meminta lebih dari satu keping. Namun kami tidak berani memberinya. Pasalnya kami takut jika terjadi hal yang tidak diingikan. Biasanya obat yang mereka beli tanpa resep bukan menyembuhkan, namun dapat memperparah kondisinya,” ungkapnya.

Diwartakan sebelumnya, Obat keras yang beredar di pasaran seharusnya dibeli menggunakan resep dokter. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Obat tersebut banyak dibeli tanpa rekomendasi dari dokter.

Seksi Kefarmasian Dinas Kesehatan Kutai Timur M Yusuf, mengatakan program membangun kesadaran masyarakat memang sudah dibuat. Yakni melalui Gerakan Masyarakat Cerdas Memilih Obat (Gema Cermat). Program yang dicanangkan awal 2018 tersebut, akan menyasar ke 18 kecamatan di Kutim.

Tim pelaksana Gema Cermat, dr. Muhammad Yusuf mengatakan timnya akan bersosialisasi pada masyarakat Kutim mengenai pentingnya memilih obat. Jenis obat yang dapat dikonsumsi dan cara penyimpanan yang benar.

“Kami berencana menyasar seluruh kecamatan. Hal tersebut bertujuan mengenalkan pada masyrakat obat mana saja yang harus menggunakan resep dokter. Karena banyak warga yang kurang bijak menggunakan obat keras tanpa ketentuan yang seharusnya,” ujarnya ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/2).

Menurutnya hal tersebut menjadi faktor pendorong Dinkes melaksanakan sosialisasi pentingnya obat. Baginya obat yang tidak digunakan dengan tepat, justru memicu penyakit.

“Kamipun akan menjelaskan soal Dagusibu obat, yaitu Dapatkan, Gunakan, Simpan dan Buang. Misalnya obat harus disimpan dalam lemari serta terhindar dari matahari langsung, jangan disimpan di kulkas karena obatnya bisa rusak. Hanya obat tertentu yang dapat disimpan di lemari pendingin,” paparnya.

Salah satu penyebab penyakit dapat semakin berkembang karena penggunaan obat yang salah. Membeli obat keras tanpa resep dokter sangat tidak dianjurkan. Namun hal tersebut kerap terjadi di Kutim.

“Masih sangat banyak warga yang membeli obat bertanda merah dan logo K, yang artinya obat keras tanpa anjuran dokter.  Di Sangatta sendiri masih minim wawasan warga atas hal tersebut,” ungkap Yusuf.

Ia berharap semua pihak dapat bekerjasama. Baik pemerintah,   apoteker, instansi kesehatan maupun masyrakat pengguna obat.    “Semoga saja semua pihak dapat saling membantu atas hal tersebut. Dan bijaklah dalam menggunakan obat,” tutupnya. (*/la)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Back to top button