Opini

Pilkada, Medsos, dan Generasi Pembual

Oleh Nurudin*

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 jagat dunia politik Indonesia akan kembali riuh. Sebenarnya, peristiwanya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, keriuhan itu menjadi niscaya karena ulah para pendukung. Ibarat pertandingan olah raga, yang ribut dan gegap gempita para penontonnya, sementara para pemain fokus pada pertandingan.

Keriuhan itu jika diselidiki lebih mendalam karena “perang” antar pendukung kandidat di media sosial (Medsos). Sebagaimana kita tahu, media sosial telah membuat pesan menjadi massal oleh individu sendiri. Ini tentu saja berbeda dengan media massa (cetak dan elektronik), dimana pesan-pesan yang diedarkan akan terseleksi melalui gate keeper (penapis informasi); entah reporter atau redaktur. Jadi pertimbangan lebih mendalam, media massa akan mengkaji plus minusnya, dampaknya bagi masyarakat sebelum berita disebar dan ini tidak terjadi di media sosial.

Keriuhan itu juga diperparah dengan kondisi masyarakat yang senangnya menelan mentah-mentah apa yang didapatkannya dari media sosial. Misalnya, sudah tahu bahwa informasi dari media sosial adalah pesan subjektif dan belum ada jaminan kebenarannya, dijadikan sumber rujukan. Inilah gambaran masyarakat kita yang membuat suhu kehidupan tanah air menjadi gaduh. Masalahnya, gaduh bukan soal substansi isi tetapi lebih pada persoalan permukaan atau artifisial saja.

Kodrat Menghibur

Media sosial diciptakan untuk mewadahi hiburan penggunanya. Sebagaimana televisi, media sosial punya kodrat menghibur, jika tidak ia akan ditinggalkan penggunanya. Karenanya, media sosial tentu akan mewadahi fungsi hiburan penggunanya. Memberikan kesempatan untuk menyalurkan ketertekanan, uneg-uneg, mengirimkan informasi dengan mudah, bisa pamer adalah beberapa ciri dunia hiburan. Mengapa media sosial masih diminati? Karena media itu memberikan peluang manusia untuk memanfaatkannya sebagai hiburan. Sekali lagi, sebagaimana televisi kodrat media sosial adalah menghibur.

Media sosial juga telah menciptakan generasi penyombong. Penyaluran rasa sombong juga menghibur bagi yang melakukan, mungkin karena kepuasan. Hasil penelitian Erik Qualman (2010) menunjukkan bahwa media sosial telah menciptakan perilaku braggart (pembual atau penyombong). Braggadocian behavior sebagaimana dikatakan Qualman tercermin pada apa yang dilakukan orang-orang di media sosial. Misalnya, aplikasi untuk mengunggah foto keren, cek lokasi mentereng atau makan di tempat bergengsi.

Foto keren yang diunggah misalnya, belum tentu kenyataannya seperti itu. Melalui media sosial seseorang bisa mengedit foto biar kelihatan berwibawa, ganteng, cantik atau diberi tambahan background tempat populer yang dikenal luas masyarakat. Orang juga bisa berpura-pura bijak, pinter dan memotivasi di media sosial. Cara-cara seperti ini bentuk perilaku braggart karena memang tidak bener-benar sesuai kenyatan.

Akibat perilaku sombong seperti ini, tak jarang apa yang disebarkan di media sosial juga tidak seluruhnya benar, tetapi mereka terhibur dengan kesombongannya itu. Ini tentu saja tidak bermaksud menggeneralisasi bahwa semua aktivis media sosial itu sombong. Coba amati lagi, kesombongannya itu kemudian disebar-sebar ke orang lain dan orang lain itu justru menelannya mentah-mentah. Kondisi inilah yang memunculkan keriuhan akibat ulah “penonton”, termasuk ulahnya dalam kompetisi politik seperti Pilkada atau Pilpres.

Suhu Politik

Apa yang senyatanya terjadi dalam kehidupan media sosial itu tak jauh berbeda dengan kehidupan politik, apalagi politik yang didukung oleh media sosial. Coba kita lihat dan rasakan, media sosial telah mencabut hubungan kekerabatan dengan teman hanya gara-gara politik. Media sosial telah menumbuhkan bibit-bibit permusuhan antar sesama. Ini terjadi karena semua orang bisa menyebarkan informasi apa saja melalui media sosial.

Seseorang bisa jadi hanya menyalurkan uneg-uneg melalui media sosial dengan menyindir, tetapi sindiran itu tentu telah “melukai” orang lain. Kita masih hidup dalam masyarakat dengan tingkat empati sangat rendah. Kesombongan politik yang diedarkan melalui media sosial, telah membuat suasana gaduh dan memancing pihak lain bereaksi secara brutal. Itu pulalah yang membuat pemerintah harus bertindak keras dan tegas karena perilaku menang sendiri orang-orang dalam media sosial.

Bahasan di atas tentu bukan sekadar menuduh bahwa media sosial hanya berdampak buruk. Kita hanya mencoba mengkritisi media sosial dari sudut pandang lain. Ini penting dilakukan karena tahun politik akan semakin gaduh dengan tipe masyarakat kita saat ini. Bukan salah media sosialnya, anggap saja kita masih miskin empati untuk hidup dalam masyarakat plural seperti Indonesia, meskipun kita beragama sekalipun.

*Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); penulis buku “Tuhan Baru Masyarakat Cyber”

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Baca Juga

Close
Back to top button