Opini

Narkoba Ancaman Nyata

Siti Munawarah, S.E

Aktivis Remaja Islam

Berbicara tentang narkoba yang tengah beredar dan merajalela di Indonesia tentu tak ada habisnya, ibarat  yang tengah mencekik indonesia saat ini, entah kapan lunasnya begitu juga narkoba tak pernah ada endingnya. Dari dulu sampai sekarang persoalannya tak pernah tuntas.

Dan akhir-akhir ini kita kembali dibuat kaget, bagaimana tidak , hantu yang bernama narkoba kembali merajalela di Indonesia bahkan lebih parah dari rezim-rezim sebelumnya.  Narkoba dalam jumlah yang sangat besar coba diselundupkan ke Indonesia, jumlahnya bukan lagi kg (kilogram) tapi ton.

Pada bulan Februari tepatnya Selasa (20/2), Polri bersama Bea Cukai mengungkap kapal Taiwan berbendera Singapura yang menyeludupkan 1, 6 ton narkotika jenis sabu di perairan Batam, Kepulauan Riau. Itu hanya salah satu dari beberapa kasus yang terekspos, mungkin yang lolos lebih banyak ketimbang yang terungkap.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso atau Buwas mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Indonesia yang masih darurat narkoba.   Lebih mirisnya beliau mengatakan, Indonesia dinyatakan darurat narkoba sejak tahun 1971. Ketika itu, Presiden RI ke-2 Soeharto menyatakan, Indonesia sedang dalam kondisi darurat narkoba.

Permasalahan yang dari dulu sampai sekarang tak pernah tuntas, permasalahan yang terus bertambah. Bahkan ketika dikatakan bahwa Indonesia darurat narkoba , tidak ada langkah signifikan yang dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas peredaran narkoba yang semakin masif, buktinya kasus yang berkaitan dengan narkoba terus meningkat.

Nama artis satu persatu bermunculan entah sebagai pengguna atau pengedar. Tak hanya dikalangan artis, narkoba juga merambah dikalangan oknum polisi, tepatnya Selasa (20/2) sebanyak 9 anggota Polres Dairi dinyatakan positif mengonsumsi narkoba berdasarkan hasil tes urine yang dilakukan. 9 anggota tersebut berstatus bintara muda.

Ini hanya segelintir kasus terkait narkoba yang terekspos. Banyak kasus serupa terjadi hanya saja tidak nampak kepermukaan, bahkan pelakunya bukan hanya dari kalangan artis maupun oknum polisi, dari kalangan pejabat pun ada hanya saja tidak terekspos oleh media.

Di tengah issue masuknya ber ton ton narkoba ke Indonesia, kita sebagai rakyat tentunya khawatir dan bertanya-tanya, sebenarnya kemana pemimpin negeri ini. Begitu mudahnya barang haram masuk ke Indonesia seperti tidak ada penjaga.

Fahri Hamzah mengatakan, kita saat ini seperti tidak punya  panglima, tidak punya pemimpin, presiden kita tidak tahu bahwa ini ada perang, beliau juga mengatakan bahwa invasi kepada Indonesia melalui semua jalur telah terjadi baik ekonomi, ideologi dan politik. Karena memang tak bisa dipungkiri, berbagai macam barang haram masuk  ke Indonesia akibat dari titik strategis seperti bandara dan pelabuhan hampir semua dikuasai oleh asing.

Berita terbaru mengatakan,  Bamsoet mengaku mendapat informasi dari Kepala BNN Budi Waseso. Diduga masih ada 600 ton bahan baku sabu berkualitas tinggi senilai 1.200 triliun atau hampir setengah dari total APBN Indonesia siap masuk ke Indonesia.  Dan hampir semua barang tersebut berasal dari Cina.

Dengan membanjirnya penyeludupan narkoba ke Indonesia, ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah menjadi pasar narkoba internasional yang sangat besar. Di tengah carut marut berbagai persoalan yan g menimpa negeri,  ini membuktikan bahwa lemahnya keamanan negara yang ditandai dengan bebasnya WNA keluar masuk yang mengakibatkan penyeludupan narkoba semakin meraja.

Kita tentu bertanya-tanya, kenapa permasalahan yang sama terus berulang bahkan bertambah parah tanpa adanya solusi tuntas dari pemerintah. Semua  tentu akibat dari sistem yang diterapkan saat ini, sistem yang lahir dari akal manusia yang te rbatas, sistem yang melahirkan aturan-aturan yang rusak, bahkan merusak orang-orang yang ada di dalamnya.

Sistem Kapitalisme. Sistem ini memandang bahwa segala macam apapun yang mampu menghasilkan materi maka diambil, tanpa memandang apakah itu halal atau haram. Makanya wajar narkoba  tumbuh subur dalam sistem ini. Yang dipentingkan hanya materi, materi dan materi , itu saja, tanpa memperhatikan akibat dari narkoba itu sendiri yaitu merusak generasi bangsa, generasi yang harusnya jadi ujung tombak perubahan, malah lenyap ditelan narkoba. Dan sekali lagi ini menunjukkan negara lemah dan gagal sebagai pelindung (junnah) dan  pengurus rakyat (rain). Berbeda halnya ketika islam diterapkan, sebab islam memandang  narkoba adalah barang haram yang harus dijauhi.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Dari Ummu Salamah ia berkata Rasulullah SAW melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah).

(HR. Abu Daud)

Dalam islam ketika hukumnya sudah jelas haram maka tidak boleh diambil. Ketika ada yang kedapatan menggunakan, maka negara wajib memberikan hukuman. Hukuman yang digunakan pun hukuman yang mampu menimbulkan efek jera, baik bagi pelaku maupun bagi rakyatnya, agar tidak melakukan hal yang sama.

Walaupun narkoba sejatinya menghasilkan materi segunung, tapi dalam islam standarnya adalah halal haram bukan materi seperti sistem kapitalisme sekarang. Makanya wajar permasalahan narkoba tak pernah selesai bahkan tambah parah . Sebab selama sistem kapitalisme  masih bercokol maka peredaran narkoba akan semakin meraja dan permasalahan yang ditimbulkan pun akan semakin kompleks.

Waallau ‘alam bissawab

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Baca Juga

Close
Back to top button