Bontang

Penembak Bontang Kurang Perhatian

Apresiasi tak sebanding dengan prestasi. Itulah ungkapan yang tepat menggambarkan nasib olahragawan menembak Bontang, Dwi Firmansyah. Di satu sisi, dipercaya membawa panji Merah-Putih namun di sisi lainnya tak diberi kucuran dana yang optimal. Praktis, ia berangkat menuju Palembang nantinya berbekal dana seadanya.

Posisi tegap sembari menempelkan popor laras panjang mendekati pipi. Berhenti sejenak, mata fokus melihat titik sasaran dengan cermat. Pelatuk pun ditarik seketika, diakhiri dengan hembusan nafas. Itulah yang dipratikkan Dwi Firmansyah, atlet menembak yang berasal dari Bontang saat latihan.

Kepada Bontang Post, Senin (16/7) kemarin, Dwi mengaku dalam waktu dekat akan menuju Palembang, venue menembak di Asian Games XVIII. Ia akan berlaga di nomor 50 meter Three Position (tiga posisi, Red.). Segala persiapan telah dilakukan mulai kesiapan fisik hingga secara finansial.

Sayangnya ada sedikit kekecewaan menyelimuti sanubari Dwi terkait dengan keberangkatannya, dari sisi bantuan dana. Pasalnya, hingga kini perhatian dari Pemprov Kaltim sangat minim. Padahal Pengurus Besar Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia (PB Perbakin) telah menginformasikan jika pendanaan atlet ditanggung oleh masing-masing provinsi.

“Ini berangkat modal nekat karena hobi saya menembak, jadi saya merasa terpanggil harus berangkat,” kata Dwi.

Menurutnya, saat ini Pemprov Kaltim hanya mengucurkan bantuan Rp 5 juta. Teknis pengelolaan dana tersebut dibebaskan kepada atlet bersangkutan untuk mengaturnya. Jumlah tersebut dirasa sangat minim oleh Dwi dikarenakan ada beberapa aspek yang harus ia tanggung selama pelaksanaan. Mulai dari akomodasi, biaya sehari-hari, hingga pembelian sarana latihan.

Pria keturunan Jawa ini mengatakan, selama ini Pemprov Kaltim selalu berteriak untuk urusan target. Namun saat atlet melakukan persiapan mereka terkesan cuek.

“Saat PON sebelumnya, Pemprov Kaltim selalu bicara soal target emas tetapi tidak diimbangi dengan kucuran perlengkapan latihan. Jenjang sebelum mengikuti kejuaraan mereka tidak peduli, hanya membutuhkan nilai bagus,” keluhnya.

Kondisi ini diperparah situasi saat pemusatan latihan yang digelar 25 Juli hingga 14 Agustus nanti. Dikatakannya sebanyak 27 atlet dari daerah nasibnya bakal dicampakkan oleh PB Perbakin. Terutama terkait fasilitas karantina jelang pelaksanaan Asian Games. Mengingat PB Perbakin lebih memprioitaskan 10 atlet dari nomor tanding

“Ada tim yang diprioritaskan untuk mendapat medali. 27 atlet sisa dari daerah lain menggunakan dana mandiri. Mereka seperti tidak mengurusnya mau tinggal dan latihan di mana,” geram Alumni SMKN 1 Bontang ini.

Dwi pun tak pasang target muluk-muluk di Asian Games kali ini. Baginya merebut posisi 10 besar sudah menjadi target yang realistis.

“Saya tidak muluk-muluk masuk 10 besar sudah cukup. Saya sadar negara lain telah siap,” ucapnya.

Berdasarkan pengamatannya, saingan terberatnya ialah tim dari Tiongkok. Hal ini dikarenakan ketersediaan fasilitas yang diberikan oleh negara kepada atlet.

“Kalau skill semua sama karena bisa dipelajari,” kata dia.

Selama latihan sendiri di rumah, karyawan PT Yepeka Usaha Mandiri (YUM) ini tidak menggunakan peluru. Alasannya harga peluru sangat mahal sehingga berat jika ditanggung oleh atlet. Dipaparkannya, satu boks berisi 50 butir peluru membutuhkan dana Rp 500 ribu. Sementara pria yang dikenalkan menembak sejak kelas V SD ini, saat latihan memerlukan 150 butir peluru per harinya.

“Tidak menggunakan peluru hanya memakai pakaian lengkap pertandingan. Visualisasi seolah berada di lapangan. Waktu latihan 4 jam tiap harinya,” paparnya.

Nantinya, saat pemusatan latihan ia bakal memperhitungkan cahaya, angin, tarikan pelatuk, hingga pernafasan. Ia menjadwalkan keberangkatannya pada 25 Juli nanti.

Perjalanan panjang dilalui Dwi sebelum memastikan diri memperoleh satu slot berlaga di Asian Games. Pada tahun 2012 saat PON di Riau, ia berhasil membawa Kaltim mendapatkan medali perunggu. Tak hanya itu, empat tahun berselang saat PON di Jawa Barat, Dwi beserta timnya kembali menyabet medali perunggu dan memecahkan rekor nasional dengan poin 1134 di nomor tanding 50 meter Three Position.

Sebelum berangkat, Dwi mendapat tambahan bantuan dari seorang pengusaha, Firman Lafire. Ia mengaku terpanggil membantu lantaran adanya kesiapan dukungan kepada Dwi dari negara Malaysia. Meskipun Firman enggan untuk menyebut nominal bantuan yang diberikan.

“Ini atlet Bontang, sayang apabila diambil daerah atau negara lain,” kata Firman.

Pria yang juga merupakan pengurus Perbakin Bontang ini mengaku sudah melihat potensi Dwi sejak lama. Ia mendengar kendala yang dihadapi Dwi saat orang tuanya berkeluh kesah terkait kendala finansial setelah ditunjuk mewakili Indonesia berlaga di Asian Games bulan depan.

“Kemarin dengan orang tuanya ketemu saat di lapangan golf. Mereka menyampaikan keluh kesahnya kepada saya bahwa mas Dwi sudah ada panggilan untuk mengikuti Asian Games dan terkendala finansial karena tidak dapat pembiayaan dari pusat dan provinsi,” pungkasnya. (ak)

 

GRAFIS

Nama                    : Dwi Firmansyah

TTL                         : Bontang, 29 Mei 1987

Ayah                      : Sukarno

Ibu                         : Winarti

Riwayat Pendidikan :

  • SD YPK Pupuk Kaltim
  • SMPN 2 Bontang
  • SMKN 1 Bontang

 

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button