Kaltim

“Banteng” Bakal Adu Sikut di Ibu Kota

SAMARINDA – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Kaltim mengusung 12 bakal calon legislatif (bacaleg) di daerah pemilihan (dapil) Samarinda. Sejumlah nama yang tidak lagi asing di telinga publik ikut dalam deretan daftar bacaleg yang akan memperebutkan kursi di DPRD Kaltim.

Ananda Emira Moeis, Iswandi, Yakob Manika, Zuhdi Yahya, dan Edy Kurniawan sebagian bacaleg dapil Samarinda yang sudah malang melintang di masyarakat dan dunia politik. Deretan berikutnya, terdapat nama Yustisia Dibrina, Supratono, dan Renny Kotambunan. Kemudian Yemmy Roos, Romadhoni Putra Pratama, Wahyu Hidayat, dan Violitha Yushtina.

Yakob Manica, salah satu bacaleg PDI Perjuangan dapil Samarinda, menyebut pertarungan perebutan kursi di gedung Karang Paci, justru akan lebih alot di tubuh partai. Belajar dari pengalaman di pemilu 2014, “saling sikut” menjelang pemilu hingga penghitungan suara kerap terjadi di internal partai.

“Bahkan ada yang menggunakan strategi jeruk makan jeruk. Istilahnya oknum tertentu menggambil suara caleg lain yang masih satu partai. Saya tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi yang pasti itu pernah jadi pembahasan di partai,” ungkapnya, Selasa (14/8) kemarin.

Selain itu, penggunaan money politic atau politik uang untuk mengajak pemilih kadang dilakukan oleh caleg. Berangkat dari ketakutan kalah dalam pemilu, membuat sebagian caleg menggunakan jalan pintas politik uang untuk mendulang suara dari pemilih.

Alasan lain yang tidak kalah penting yakni terbatasnya jumlah kursi yang diperebutkan. Sementara persaingan tidak hanya datang dari internal partai, tetapi juga lintas partai politik yang juga memiliki kepentingan yang sama.

“Saya dengar ada yang bahkan berani main uang. Menyediakan miliaran untuk membayar pemilih. Inilah masalah politik di Indonesia,” sesalnya.

Yakob tentu saja tidak menggunakan politik uang. Sebagai kader PDI Perjuangan yang sangat menjunjung tinggi ideologi partai, bangsa, dan negara, dirinya berkeyakinan, pertarungan memperebutkan suara pemilih, tidak harus dilakukan dengan cara saling menjatuhkan dan mengerahkan mesin politik uang.

Kata dia, politik uang tidak hanya merusak mental masyarakat. Tetapi juga menjadi pintu masuk bagi para politisi untuk menyalahgunakan jabatannya, jika kelak terpilih sebagai wakil rakyat.

“Jadi butuh pendekatan membangun kepercayaan masyarakat, agar dikenali dan dipilih. Itu yang saya lakukan di Samarinda. Sejak pertama kali menjadi anggota partai, saya sudah dekat dengan masyarakat,” katanya.

Dengan begitu, dirinya tidak terlalu banyak menyediakan ongkos politik menjelang pemilu 2019. Biaya yang disediakan hanya berkisar ratusan juta. Khusus untuk cetak spanduk dan biaya sosialisasi ketika bertemu masyarakat.

“Kalau hanya itu, tidak mungkin bisa sampai miliaran. Hanya puluhan juta,” katanya. Disinggung nominal biaya yang disediakannya, Yakob berkilah tidak dapat menyampaikannya pada publik.

“Itu rahasia yah. Tetapi ada kok saya sediakan. Tidak sebesar yang lain. Tidak sampai miliaran seperti yang diungkap dalam koran,” tuturnya.

Sambil berkelakar, sebagai anggota DPRD Kaltim, justru kekayaannya tidak bertambah banyak. “Karena memang gaji di DPRD itu sangat kecil. Hanya orang yang bermain saja yang bisa kaya. Model saya yang fokus di masyarakat, enggak mungkin bisa menyediakan uang banyak untuk pemilu,” terangnya. (*/um)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button