Bontang

Tak Dikenal, Hanya Dianggap Nama Jalan

BONTANG menjadi salah satu daerah di Kaltim yang salah satu jalannya diberi nama Jalan Awang Long. Jalan tersebut termasuk jalan utama, karena menjadi lokasi kantor lembaga dan instansi pemerintahan. Bahkan rumah jabatan Wali Kota Bontang berada di jalan ini.

Memiliki panjang sekira 1,5 kilometer, Jalan Awang Long terbentang dari simpang tiga Jalan MH Thamrin, lurus ke arah barat hingga simpang empat Bontang Kuala yang menjadi pertemuan Jalan DI Panjaitan, Jalan Pierre Tendean, dan Jalan KS Tubun.

Di sepanjang jalan tersebut, berdiri beberapa perkantoran meliputi Markas Kodim 0908/BTG, Kejaksaan Negeri Bontang, Kantor Kecamatan Bontang Utara, Rumah Jabatan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bontang berikut pendoponya.

Kemudian eks Kantor Wali Kota lama yang sekarang dihuni beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) Bontang. Meliputi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Bontang, Dinas Penanaman Modal, Tenaga Kerja, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTK-PTSP) Bontang, Auditorium Taman 3D, dan perwakilan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (Dissos-P3M) Bontang.

Terus melintasi simpang tiga Salebba, terdapat Balai Taman Nasional Kutai (TNK), Pengadilan Negeri (PN) Bontang, Badan Pusat Statistik (BPS) Bontang, Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bontang. Setelah tikungan, terdapat Pengadilan Agama (PA) Bontang yang masih berada di garis Jalan Awang Long.

Sayangnya, nama Awang Long di Bontang sekadar dikenal sebagai nama jalan. Tak banyak yang mengenalnya sebagai nama pahlawan pejuang kemerdekaan asal Kaltim. Hanya segelintir yang mengetahui Awang Long sebagai panglima yang mengorbankan jiwanya melawan penjajah Belanda.

Fakta ini terungkap dari survei kecil-kecilan yang dilakukan tim Bontang Post. Garis besar survei menyimpulkan, delapan dari sepuluh warga Bontang tak tahu siapa sosok Awang Long. Sementara dari dua tersisa, satu di antaranya mengetahui Awang Long berikut kilasan perjuangannya, satu lainnya hanya mengetahui Awang Long sebagai sosok pahlawan Kaltim.

Warga Bontang yang tidak tahu siapa Awang Long, didominasi kalangan anak-anak, remaja, hingga rentang usia 20-an sampai 30-an tahun. Akbar (25), pekerja swasta yang bermukim di Kelurahan Belimbing, mengaku tak tahu siapa Awang Long. “Awang Long itu siapa ya? Bukannya itu nama jalan ya?” jawab Akbar balik bertanya.

Pun begitu dengan Doni, salah seorang pekerja kreatif di Bontang. Saat ditanya media ini, tak tahu-menahu perihal Awang Long. “Saya tidak tahu siapa Awang Long. Saya tahunya itu nama jalan di Bontang. Itu saja,” ungkap lajang yang juga berusia 25 tahun ini.

Yani (35), salah seorang warga Tanjung Laut malahan baru tahu bahwa Awang Long merupakan nama orang. “Kalau Awang Long sebagai nama tempat saya tahu. Tapi kalau Awang Long sebagai nama orang, saya dengar ini dari Anda (wartawan, Red.),” urai Yani mengaku yang hidup dan besar di Bontang.

Dari jawaban-jawaban yang didapatkan menurut survei Bontang Post, mereka yang tak tahu siapa Awang Long mengaku tak pernah mendapat pelajaran atau informasi, baik dari sekolah atau luar sekolah, mengenai sosok sang panglima. Sehingga yang diketahui hanya fakta bahwa Awang Long adalah salah satu nama jalan di Bontang.

Sementara dari sekian responden yang ditanyai media ini, hanya segelintir saja yang mengetahui siapa Awang Long. Mereka yang mengenal Awang Long sebagai pahlawan, di antaranya mengetahui informasinya dari buku-buku sejarah, media, cerita orang tua, juga ada yang mengaku mengetahui dari pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Faktanya, ketidaktahuan akan sosok Awang Long bukan hanya dialami warga Bontang. Dari survei Bontang Post, diketahui bila warga daerah Kaltim lainnya turut tak mengenal Awang Long sebagai sosok pahlawan. Malahan, warga yang tinggal di dekat makam Awang Long hanya mengenalnya sebagai pahlawan, tanpa mengetahui kisah perjuangannya.

“Yang saya tahu sih Awang Long itu pahlawan, dia itu panglima. Tapi untuk kisah perjuangannya, saya tidak tahu,” tutur Anggi Wiratmaza (32), warga Tenggarong yang kediamannya berada tepat di depan kompleks makam Awang Long.

Minimnya informasi tentang sosok Awang Long bisa jadi membuat sedikit warga Bontang maupun Kaltim yang mengenalnya. Ditambah lagi, cerita kepahlawanan Awang Long belum pernah disampaikan dalam mata pelajaran di sekolah.

Kisah-kisah Awang Long kebanyakan didapatkan dari cerita turun-temurun atau dari buku-buku sejarah Kaltim. Pun demikian dengan salinan ringkasan kisahnya yang sudah mulai diunggah di internet oleh pemerhati sejarah. Namun begitu, kisah Awang Long tampaknya belum tersebar secara luas kepada masyarakat Kaltim.

Bontang Post lantas mencoba menelusuri ketersediaan informasi tentang Awang Long di Bontang. Sebagai pusat koleksi buku rujukan di Bontang, Perpusatakan Umum Daerah Bontang di Jalan HM Ardans menjadi tujuan utama.

Di seksi buku-buku sejarah yang ada di perpustakaan, media ini menemukan beberapa buku sejarah tentang Kaltim. Namun di antara buku-buku tersebut, hanya satu buku yang memuat kisah Awang Long. Yaitu buku “100 Fakta Kalimantan Timur” yang diterbitkan Tim Pustaka Spirit.

Salah satu halaman buku ini memuat kisah Awang Long yang diberi sub judul “Panglima Perkasa Kutai Kartanegara”. Namun kisah yang tersaji hanya ringkasan perjuangan Awang Long dan hanya menghabiskan satu halaman.

Terkait minimnya informasi tentang pahlawan lokal Kaltim, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang Dobi Rizami angkat bicara. Dia mengakui bila koleksi buku-buku sejarah Kaltim di Perpustakaan Bontang memang terbatas.

Karenanya, Dobi berharap agar para penulis lokal dan sejarawan dapat terus menggali dan membukukan informasi-informasi tentang para pahlawan Kaltim. “Ada saja (buku-buku sejarah Kaltim), tapi terbatas. Perlu ada pembukuan kisah-kisah pahlawan,” tegas Dobi.

Buku-buku sejarah ini, lanjut Dobi, bisa menjadi koleksi perpustakaan untuk kemudian dapat dibaca luas oleh masyarakat. Karena selain berfungsi sebagai penyimpanan buku dalam kaitan pengarsipan, perpustakaan juga menyimpan informasi-informasi strategis yang penting. Salah satunya terkait pemahaman sejarah lokal.

“Supaya dapat dipahami generasi-generasi seterusnya. Sambung-menyambung, estafetnya ada. Jangan sampai nanti kita kehilangan informasi sejarah,” terangnya.

Apalagi menurut Dobi, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Karena dengan sejarah, dapat memotivasi para generasi penerus untuk mengisi dan melanjutkan perjuangan para pahlawan.

“Artinya dengan pemahaman sejarah saat ini, jangan sampai informasi terputus pada generasi berikutnya. Jangan sampai (pahlawan) hanya dikenal sebagai nama saja,” tutur Dobi. Untuk itu, dia mendukung apabila sejarah para pahlawan ini nantinya masuk ke dalam muatan lokal di pelajaran sekolah.

Terkait masuknya kisah pahlawan Kaltim ke dalam muatan lokal di sekolah, mendapat tanggapan Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang. Kepala Disdik Bontang, Akhmad Suharto menyatakan perlunya kisah para pahlawan Kaltim, termasuk salah satunya Awang Long agar lebih dikenal masyarakat.

“Terutama yang dari awal nih, dari zaman raja-raja di Kaltim, lalu zaman penjajahan, perjuangan kemerdekaan, seperti apa para pahlawan ini berjuang,” tutur Suharto.

Sejarah Kaltim, menurut dia, saat ini masih belum optimal disosialisasikan. Yang paling dikenal salah satunya peristiwa Sangasanga. Sementara untuk kisah Awang Long, sepengetahuannya belum terlalu dikenal. Dalam hal ini, perlu ada pihak yang bergerak agar sosok sang pahlawan dapat lebih dikenal.

“Perlu (diperkenalkan). Paling tidak harus dikenalkanlah. Untuk menunjukkan bahwa Kaltim ini punya pahlawan,” sebutnya.

Dari pengalamannya, Suharto menyatakan sedikit sekali kisah pahlawan Kaltim yang masuk dalam pelajaran sekolah. Kalaupun ada, itu pun hanya diceritakan sekilas. Tidak seperti kisah pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro yang begitu dikenal peristiwa peperangannya. “Kalau perang Diponegoro kan diceritakan misalnya perangnya tahun sekian,” imbuh dia.

Menurut Suharto, pihak daerah sejatinya bisa mengusulkan kisah para pahlawan Kaltim ini masuk ke dalam pelajaran sekolah. Namun sebatas muatan lokal. Dia menegaskan akan mendukung bila tokoh-tokoh daerah diangkat kisahnya ke permukaan. Bahkan kalau bisa diperkenalkan hingga ke tingkat pusat.

“Biar di pusat tahu, kalau Kaltim juga punya pahlawan yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan,” terang Suharto.

Dijelaskannya, Disdik secara parsial bisa saja berupaya mengusulkan kisah pahlawan daerah masuk menjadi muatan lokal. Akan tetapi, akan lebih baik bila semua komponen masyarakat mau mendukung. Karena bila semua komponen masyarakat bersatu, prosesnya bisa berjalan cepat. Tapi bila dilakukan secara parsial, biasanya prosesnya berliku-liku.

“Kalau Disdik kan terkait dengan pimpinan kebijakan. Bisa saja kita bersama-sama menyampaikan ke Wali Kota atau ke Gubernur misalnya, kalau pelajaran sejarah ini perlu diangkat lagi. Itu lebih bagus,” urainya.

“Yang pasti kami mendukung saja kalau memang ada muatan lokal untuk menambah pemahaman masyarakat,” tambah Suharto.

Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak sendiri pernah menyampaikan keinginannya untuk memasukkan sejarah Kaltim sebagai muatan lokal ke dalam kurikulum di sekolah. Sehingga generasi muda selain memahami sejarah nasional, juga mengerti tentang perjuangan melawan penjajahan yang terjadi di Kaltim.

Dalam hal ini, gubernur meminta pemangku bidang pendidikan dapat merumuskan kisah-kisah heroik yang terjadi di kabupaten/kota di Kaltim. Sehingga para generasi muda di daerah selain dapat memahami sejarah nasional, juga memiliki wawasan perjuangan melawan penjajah di Kaltim.

“Jika ini bisa terealisasi, maka seluruh generasi muda Kaltim akan mengetahui sejarah Indonesia dan sejarah perjuangan di Kaltim. Mengetahui bahwa di Kaltim banyak terdapat situs bersejarah, dalam perjuangan merebut kemerdekaan,” kata Awang Faroek dalam suatu kesempatan.

Menurutnya, di Kaltim banyak terdapat situs bersejarah yang berkaitan perjuangan merebut kemerdekaan. Namun sejumlah situs itu belum diketahui oleh generasi muda. Di antaranya Tugu Perjuangan di Teluk Lerong Samarinda, Monumen Merah Putih di Kota Juang Sangasanga, termasuk juga kisah Awang Long. (luk)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button