Kaltim

Dari Kostum Kreasi hingga Kostum Ala Papua

SAMARINDA – Pawai Pembangunan digelar di Kota Tepian, Sabtu (18/8) kemarin. Ada-ada saja lakon para peserta pawai yang digunakan demi menarik perhatian masyarakat. Dari berpakaian adat hingga bertingkah lucu bin nyentrik.

Salah satu ide kreatif ini datang dari siswa-siswi SMK 11 Palaran. SMK yang unggul dengan jurusan tata busananya ini menyelipkan pakaian ala Papua di antara gemerlap parade kostum lainnya.

Pembina kelompok pawai pembangunan asal Palaran, M Adnar berkata, siswa siswi yang berkostum ala Papua ini sebenarnya bukanlah hal baru. Pasalnya kostum ini telah sering mereka gunakan untuk mengikuti pawai, namun hanya di tingkat kecamatan.

“Setiap tahun kami memang menyelipkan kostum ala Papua di pawai tingkat kecamatan. Di masyarakat ini sudah menjadi ciri khas SMK 11 Palaran,” tutur dia, saat disambangi media ini usai pawai pembangunan di depan Rumah Sakit Haji Darjad (RSHD) Jalan Dahlia, Sabtu (18/8) kemarin.

Sedangkan untuk ide sendiri, Adnar berkata, kostum ini terinspirasi dari film Laskar Pelangi dan itu sudah cukup lama. Harapannya agar tampil beda dan menghibur seluruh masyarakat yang hadir untuk melihat pawai pembangunan.

“Karena yang kami lihat di Samarinda belum ada yang meggunakan kostum ini saat pawai. Tujuannya sendiri agar lebih menghibur saja, apalagi anak-anak bisa menari jika menggunakan konsep seperti ini,” beber dia.

Adnar menuturkan, segala kostum yang mereka tampilkan merupakan kreasi dari anak-anak didiknya. Karena pihaknya memang tidak memiliki dana yang terlalu besar, namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk turut serta memeriahkan pawai pembangunan memperingati HUT ke-73 RI ini.

“Jadi kostum yang digunakan anak-anak memang mencirikan identitas jurusan mereka. Seperti kostum robot dari anak-anak jurusan teknik. Itu hanya menggunakan kardus dan kabel-kabel wireless bekas komputer. Begitupun dengan kostum ala Papua. Kami menggunakan arang asli dan cat dengan rumbai-rumbai yang terbuat dari tali. Dan semua ini merupakan kretivitas anak-anak,” kata dia.

Di tengah keterbatasan tersebut, Adnar berkata, sudah cukup senang karena anak didiknya cukup antusias mengikuti pawai pembangunan ini. Tidak perlu ditunjuk, mereka berebut untuk ikut pawai. Bahkan sampai ada yang tidak tidur karena sibuk menyiapkan segala peralatan untuk pawai keesokan harinya.

“Semalam anak-anak tidur di sekolah. Jam tiga subuh sudah bangun, sudah mulai make up dan persiapan lain-lain. Bahkan ada yang tidak tidur,”tutur dia.

Walaupun anak didiknya kerap menggunakan kostum tersebut di setiap pawai, namun Adnar mengakui, baru tahun ini pihaknya secara langsung tampil di pawai pembangunan ini. Hal ini dilakukan untuk lebih mengenalkan sekolah tempat ia mengajar, mengingat SMK 11 Palaran bisa dikatakan terletak diujung kota dan minim perhatian pemerintah.

“Pas kemarin ada yang melihat kostum ini, makanya tahun ini kami diundang. Kebetulan kami juga mendatangkan instruktur tata busana dari luar daerah. Sehingga, saya berfikiran kenapa kita tidak langsung saja tampil di pawai pembangunan,” ujarnya.

Didukung lima puluh siswanya, SMK 11 menampilkan berbagai kostum yang menarik. Dari rombongan yang berpakaian Papua, robot, pasukan pengibar bendera (paskibra) hingga kostum kreasinya yang bernuansa kuning oranye.

Meskipun ini kali pertama pihaknya mengikuti pawai tersebut, guru Kimia ini optimistis, pihaknya dapat meraih posisi pertama kategori kreasi kostum tingkat pendidikan. Karena merasa paling berbeda dari siswa siswi lainnya. “Harus optimistis. Kami datang ke sini dengan tujuan untuk menang,” pungkas dia. (*/dev)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button